Nasional

Perbedaan Data Kemiskinan, DPR Minta BPS Terbuka pada Kajian Bank Dunia

Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati mengungkapkan, kajian Bank Dunia terkait kemiskinan—yang disesuaikan menggunakan daya beli atau Purchasing Power Parity (PPP)—dan pengkategorian Indonesia berdasarkan standar negara upper-middle income dapat menjadi bahan evaluasi bagi Badan Pusat Statistik (BPS).

“Sebagai masukan bahan evaluasi serta menakar daya saing kita dengan negara-negara setara lainnya, tentu saja menjadi masukan yang baik,” katanya dalam keterangan, dikutip pada Selasa, 6 Mei 2025.

Ia menilai, BPS tidak boleh menutup diri terhadap kajian berbagai lembaga riset, termasuk Bank Dunia. Menurutnya, hal tersebut berkaitan langsung dengan keakuratan data yang menjadi dasar kebijakan pembangunan.

Baca juga : Menko Airlangga Optimis Ekonomi RI Tetap Kuat Meski Proyeksi Bank Dunia Stagnan

“Karena jika datanya kurang akurat maka kebijakan pembangunan berisiko melenceng dari target, sehingga meninggalkan jutaan orang dalam lingkaran kemiskinan,” ungkapnya.

Karakteristik Wilayah Tidak Bisa Disamaratakan

Meskipun begitu, Politisi Fraksi PKS itu mengingatkan Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, yang masing-masing memiliki karakteristik berbeda, baik antarprovinsi maupun antarwilayah kabupaten/kota.

“Tentu garis kemiskinan tiap wilayah tidak bisa disamaratakan, antara Jakarta dengan di daerah tertentu misalnya,” ujarnya.

Ia menyebut kemiskinan masih menjadi tantangan nasional yang kompleks dan akan tetap menjadi pekerjaan rumah besar yang membutuhkan penanganan sangat serius.

Baca juga : Bank Dunia Proyeksi Harga Komoditas Anjlok di 2025, Ini Penyebabnya

Arah Kebijakan Harus Pro-Rakyat Miskin

“Negara perlu memfokuskan sumber daya fiskalnya terutama pada investasi yang berpihak pada masyarakat miskin dan kebijakan yang meninimalisir ketimpangan,” ujarnya.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan Macro Poverty Outlook yang dirilis Bank Dunia pada April 2025, tercatat bahwa 60,3 persen atau sekitar 171,8 juta jiwa masyarakat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan menurut standar PPP.

Sementara itu, menurut data BPS, angka kemiskinan Indonesia per September 2024 tercatat sebesar 8,57 persen atau sekitar 24,06 juta jiwa. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

PMI 53,8: Sirkus Musiman yang Dipuji Purbaya di Istana Sebagai Mukjizat

Oleh Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa minggu… Read More

4 mins ago

Pergerakan Saham Indeks INFOBANK15 di Tengah Koreksi IHSG

Poin Penting IHSG turun 3,05% pada penutupan perdagangan 13 Maret 2026 ke level 7.137,21, diikuti… Read More

12 hours ago

Banyak Orang Indonesia Gagal Menabung karena Pola Keuangan Salah, Ini Solusinya

Poin Penting Banyak orang Indonesia gagal menabung karena pola keuangan yang keliru: penghasilan naik, pengeluaran… Read More

12 hours ago

Berikut 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 5,91% pada periode 9-13 Maret 2026 ke level 7.137,21, sementara kapitalisasi… Read More

12 hours ago

IHSG Sepekan Melemah Hampir 6 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp12.678 Triliun

Poin Penting IHSG melemah 5,91% selama pekan 9–13 Maret 2026 dan ditutup di level 7.137,21.… Read More

12 hours ago

LPS Bayarkan Rp14,19 Miliar Dana Nasabah BPR Koperindo

Poin Penting LPS mulai membayar klaim simpanan nasabah BPR Koperindo sebesar Rp14,19 miliar pada tahap… Read More

12 hours ago