Sepanjang tahun 2016, Manajemen melakukan penguatan fungsi 3 pilar yakni bisnis, risiko dan operasional. Perseroan membentuk command center untuk memonitor nasabah yang menunggak, mengimplementasikan stop and go policy baik per produk maupun per unit atas dasar threshold, meningkatkan kemampuan dan kompetensi tenaga telecollection, program reward berupa insentif penagihan, serta melakukan lelang jaminan.
Dengan semua langkah tersebut, Manajemen berhasil membukukan laba operasional sebelum beban PPAP/CKPN sebesar Rp1,60 triliun. Secara konsisten perseroan juga memperkuat rasio pencadangan dengan membentuk biaya PPAP sebesar Rp1,17 triliun. Sehingga rasio cash coverage, imbuh Agus, meningkat menjadi 67,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp58,11 triliun.
Baca juga: Pertebal Pencadangan, Laba Mandiri Turun 32,1%
Per Desember 2016, aset BSM mencapai Rp78,8 triliun, naik 12,03 persen secara setahunan dari Rp70,4 triliun pada Desember 2015. Peningkatan aset antara lain ditopang oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 12,62 persen menjadi Rp69,9 triliun. Sedangkan pembiayaan tumbuh 8,8 persen menjadi Rp55,6 triliun per Desember 2016.
“Kami senantiasa konsisten untuk terus menumbuhkan pembiayaan dengan penjagaan kualitas agar perusahaan bisa menghasilkan profit yang optimal,” sambung Senior Executive Vice President BSM, Ade Cahyo Nugroho. (*)
Page: 1 2
Poin Penting Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit 2026 di atas rata-rata industri, sejalan dengan proyeksi… Read More
Info Penting Jual beli kendaraan STNK only dinyatakan ilegal, karena BPKB adalah satu-satunya bukti kepemilikan… Read More
Poin Penting Juda Agung resmi dilantik sebagai Wamenkeu untuk sisa masa jabatan 2024–2029 melalui Keppres… Read More
Poin Penting DPLK Avrist menargetkan pertumbuhan nasabah 15% hingga akhir 2026 dari total lebih 29… Read More
Poin Penting Bank Mandiri mencermati risiko global (geopolitik, kebijakan perdagangan, volatilitas komoditas) serta dampak penurunan… Read More
Poin Penting Kredit UMKM Bank Mandiri tumbuh 4,88% sepanjang 2025, di tengah perlambatan kredit UMKM… Read More