Ekonomi DKI Jakarta di 2018 Tumbuh Melambat
Jakarta — Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa bulan Juli lalu untuk menahan penerapan tarif perdagangan lebih lanjut dan terbukanya jalur negosiasi atas kemungkinan pembatalan atau setidaknya koreksi tarif yang sebelumnya sudah diterapkan oleh kedua belah pihak, menjadi berita positif bagi pasar obligasi Indonesia.
Sebab, faktor tersebut cukup mengembalikan risk appetite investor global, mendukung aliran masuk dana asing ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia. Pasar obligasi pun akhirnya menguat 0,85% setelah 3 bulan melemah dan investor asing mencatatkan pembelian bersih IDR9 triliun. Namun, hal itu belum tentu berindikasi sebagai titik balik untuk pasar obligasi di Indonesia.
Hal itu diungkapkan oleh Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Ezra Nazula, yang menyatakan bahwa risiko konflik dagang global masih belum tuntas sepenuhnya, dengan retorika antara AS dengan China yang masih berlanjut.
“Kita masih harus menunggu konsistensi perilaku investor. Tetapi yang tidak bisa kita abaikan adalah fakta bahwa nilai tukar Rupiah saat ini sudah lebih stabil, dan level imbal hasil obligasi Indonesia sangat menarik,” katanya, Senin (13/08).
Baca juga: Pelemahan Rupiah Mulai Berdampak ke Pasar Obligasi
Ezra menambahkan, dari segi fundamental Indonesia, beberapa faktor tidak berubah dan tetap menopang daya tarik pasar obligasi Indonesia, seperti perekonomian yang tetap menunjukkan tren perbaikan dan inflasi yang terjaga. Dari sisi kondisi pasar obligasi sendiri, kepemilikan asing atas obligasi yang dapat diperdagangkan sudah turun dari level tertinggi sekitar 41% ke kisaran 37% saat ini, sehingga potensi tekanan jual asing menjadi lebih terbatas.
“Satu hal yang dapat membuat investor asing semakin yakin berinvestasi pada obligasi Indonesia adalah stabilitas nilai tukar Rupiah. Ini yang masih menjadi ‘PR’. Tetapi untungnya Bank Indonesia terlihat sangat proaktif dan melakukan upaya-upaya preemtif untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Secara singkat, stabilitas Rupiah adalah katalis yang sangat penting yang dinantikan pasar,” ujar Ezra. (Ayu Utami)
Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More
Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More
Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More
Poin Penting SIPF menyiapkan consultation paper untuk mendorong Lembaga Perlindungan Pemodal masuk dalam revisi UU… Read More
Poin Penting Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian… Read More
Poin Penting Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat… Read More