Jakarta – Ketidakpastian akan pemulihan ekonomi global telah meningkatkan risiko di pasar keuangan. Karenanya, tak mengherankan jika kini tampak bahwa atmosfer di pasar global secara umum tetap waspada.
Jameel Ahmad, Chief Market Analyst FXTM mengatakan, rendahnya selera risiko mengurangi ketertarikan investor terhadap pasar saham.
Sentimen ekonomi global secara umum dan selera risiko investor mungkin mengalami pukulan karena berita penurunan prospek global Bank Dunia. Baru-baru ini Bank Dunia memang memangkas pertumbuhan ekonomi sejumlah negara, termasuk Indonesia. Gejolak harga minyak, belum pulihnya harga komoditas dan kebijakan AS terkait suku bunga menjadi pemicunya.
“Tentu saja ada sejumlah ketidakpastian lain yang menyebabkan memburuknya ketertarikan investor pada aset berisiko, contohnya ketidakpastian arah suku bunga AS dan referendum Uni Eropa mendatang” ujar dia. (*)
Poin Penting Cadangan devisa Indonesia naik menjadi USD156,5 miliar per akhir Desember 2025, meningkat dari… Read More
Poin Penting BNI AM memproyeksikan rotasi sektor dari saham emiten konglomerasi ke saham perbankan pada… Read More
Poin Penting OJK resmi mencabut izin usaha PT BPR Suliki Gunung Mas melalui KEP-1/D.03/2026 tertanggal… Read More
Poin Penting Mantan Pincab BRI Tenggarong, Andriyani, divonis 10 tahun penjara karena kasus kredit macet… Read More
Poin Penting Dirjen Kekayaan Negara melantik Sukatmo Padmosukarso sebagai Ketua Dewan Direktur merangkap Direktur Eksekutif… Read More
Poin Penting IHSG dibuka menguat tipis 0,03 persen ke level 8.947,61 pada pembukaan perdagangan 8… Read More