Peningkatan Risiko Inflasi Patut Diwaspadai di Tengah Pemulihan Ekonomi

Peningkatan Risiko Inflasi Patut Diwaspadai di Tengah Pemulihan Ekonomi

Gejolak Harga Emas dan Cabai Jadi Pemicu Inflasi Awal Agustus
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Saat ini risiko ekonomi bergeser dari ancaman pandemi ke ancaman gejolak ekonomi global. Hal ini ditandai oleh meningkatnya inflasi global, tensi geopolitik, risiko pangan, energi, dan krisis keuangan, serta peningkatan likuiditas dan kenaikan suku bunga yang akan mengingkatkan risiko stagflasi.

Deni Ridwan Direktur Surat Utang Negara serta Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko mengatakan, inflasi merupakan suatu hal yang sangat perlu diwaspadai karena adanya pemulihan ekonomi pasca pandemi, dimana adanya peningkatan dari sisi permintaan tetapi suplainya terbatas.

“Energi juga salah satu hal yang perlu kita garis bawahi ternyata krisis energi saat ini bukan karena hanya pemulihan ekonomi yang lebih cepat dibandingkan dengan perkiraan tapi juga kekosongan investasi di sektor energi terutama di fossil fuel selama beberapa tahun terakhir,” ujar Deni dalam acara Penganugerahaan Top 20 Financial Institution Award 2022 yang digelar The Finance, di Jakarta, Kamis, 24 November 2022.

Lanjutnya, renewable energy belum bisa sepenuhnya menggantikan bahan bakar fosil, sehingga ketika saat pemulihan, suplai energi tidak bisa memenuhi kebutuhan dikarenakan investasi di sektor bahan bakar fosil sangat terbatas.

“Termasuk juga beberapa negara membatasi keuangannya untuk memberikan kredit atau investasi di sektor yang dianggap tidak ramah lingkungan,” jelasnya.

Selain itu, pemulihan ekonomi mendorong scaring effect yang menyebabkan inflasi. Ditandai dengan beberapa negara G20 sudah mulai menaikan suku bunganya termasuk Indonesia yang saat ini di level 5,25%.

“Inflasi Indonesia masih terjaga di 5,7% karena adanya peran dari APBN sebagai shock absorber. Jadi negara lain kenapa inflasinya cukup tinggi karena peran budget-nya sudah terbatas,” pungkas Deni.

Meski demikian, perekonomian Indonesia diproyeksikan masih baik dan akan tumbuh sekitar 5%. Di tengah outlook ekonomi global yang melemah seiring dengan berbagai peningkatan risiko. (*)

Editor: Rezkiana Nisaputra

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]