Ekonomi dan Bisnis

Pengusaha Dukung Kebijakan Pemerintah Terkait Harga Batu Bara

Jakarta – Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mendukung kebijakan pemerintah penetapan harga ‎batu bara untuk dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) sebesar 70 dolar AS per ton untuk nilai kalori 6.322 GAR.

Keputusan penetapan harga tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No. 19/2018 tentang Perubahan Kedua Permen ESDM No. 7/2017 tentang Tata Cara Penetapan Harga Patokan Penjualan Mineral Logam dan Batubara.

Menurut Permen tersebut, harga USD 70 per ton berlaku untuk batu bara dengan nilai kalori 6.322 kcal/kg, Total Moisure 8 persen, Total Sulphur 0,8 persen, dan Ash 15 persen.

Direktur Eksekutif Hendra Sinadia‎ mengatakan, APBI secara umum mendukung keputusan pemerintah untuk menjaga harga tarif listrik tidak naik hingga tahun depan, meskipun hal ini menekan pendapatan perusahaan batu bara.

“Dampaknya pamasukan perusahaan menjadi berkurang karena harga batu bara tidak mengikuti harga pasar, tetapi kami mendukung keputusan pemeritah yang bertujuan untuk tidak menaikkan tarif listrik bagi masyarakat hingga 2019 nanti‎,” ujar Hendra dalam keterangannya, di Jakarta, Sabtu, 17 Maret 2018

Meskipun harga sudah ditetapkan‎, kata Hendra, peraturan tersebut tidak berlaku surut, sehingga kontrak-kontrak penjualan antara PLN dengan perusahaan batu bara sebelumnya menggunakan perjanjian awal.

Baca juga: Penetapan Harga Batubara Domestik Tunggu Keputusan Presiden

Sementara sebagian besar batu bara yang dipakai PLN bukan batu bara berkalori tinggi, rata-rata nilai kalorinya di bawah 5.000 kcal/kg. Dengan demikian harga jual batubara ke PLN sebenarnya lebih rendah dari US$70/ton atau sekitar US$35-40/ton.

Analis senior PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menuturkan, pada dasarnya penentuan harga acuan tersebut tergantung dari para pengusaha batu‎ bara menyikapinya, dimana informasi harga 70 dolar AS masuk dalam skala ekonomis mereka.

“Dari perusahaan batu bara itu tidak masalah, tetapi problemnya di market, investor sudah menebak penerimaa perusahaan yang mayoritas memasok produksinya ke PLN,” papar Reza.

Reza melihat, sentimen negatif ini dapat bersifat sementara‎ jika dari jajaran direksi perusahaan yang mayoritas memasok batu bara ke PLN, memberikan pernyataan kepada investor jika hal tersebut tidak mempengaruhi pendapatan perseroan secara besar.

“Dia pastikan ke investor, dia memiliki pasar lain misalnya ekspor ke luar negeri, jadi pendapatanya tidak tergantung dari dalam negeri saja, ini akan memberikan sentimen positif,” papar Reza.(*)

Dwitya Putra

Recent Posts

Demutualisasi Bursa Efek Indonesia, Kudeta “Tak Berdarah” Tiga Komisioner OJK Mundur Terhormat

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank TIGA komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengundurkan diri.… Read More

2 mins ago

Bos Danantara Sebut Demutualisasi BEI Buka Pintu Investor Global

Poin Penting Demutualisasi BEI membuka peluang investor asing menjadi pemegang saham, mengikuti praktik bursa efek… Read More

5 hours ago

CIO Danantara Buka Suara soal Demutualisasi BEI dan Potensi Konflik

Poin Penting Demutualisasi BEI dinilai tidak memicu konflik kepentingan, karena pengaturan dan pengawasan tetap di… Read More

6 hours ago

Awarding BTN Housingpreneur Jadi Penutup BTN Expo 2026, Fokus Inovasi Perumahan

Poin Penting BTN Expo 2026 ditutup dengan Awarding BTN Housingpreneur 2025, menyoroti lahirnya 58 inovator… Read More

7 hours ago

Digadang Jadi Pjs Dirut BEI, Jeffrey Hendrik Respons Begini

Poin Penting Jeffrey Hendrik digadang menjadi Pjs Dirut BEI, namun memilih menunggu pengumuman resmi. Penunjukan… Read More

7 hours ago

Respons Cepat OJK Redam Kekhawatiran Pasar Pascapergantian Pimpinan

Poin Penting OJK memastikan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga usai penunjukan Friderica Widyasari Dewi sebagai… Read More

9 hours ago