Saat ini, kata dia, Indonesia masih memiliki catatan neraca barang dan jasa yang mengalami defisit. Berbeda dengan negara-negara tetangganya seperti Malaysia, Filipina, Thailand dan beberapa negara lainnya di Asean yang mengalami surplus.
Melihat kondisi tersebut, tentu pemerintah dan Bank Sentral harus berupaya menjaga peningkatan ekspor yang berkesinambungan, di sisi lain pemerintah juga harus terus berupaya menekan nilai impor yang saat ini masih tinggi.
Sementara jika penguatan rupiah terus berlanjut, maka barang-barang impor akan semakin murah, dengan demikian akan mengurangi daya saing industri yang berorientasi ekspor Indonesia.
(Baca juga : Penguatan Rupiah Dipicu Oleh 3 Faktor Ini)
“Jadi karena suatu negara yang ekspor impor barang dan jasa defisit, harus menguatkan ekspor dan mengendalikan impor. Kurs itu tools untuk menyeimbangkan defisit supaya tidak terlalu besar,” ucapnya.
Penguatan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini, disebabkan oleh beberapa sentimen positif salah satunya adanya program tax amnesty yang direspon positif oleh para pengusaha dan wajib pajak perorangan. Saat ini, pergerakan rupiah masih berada pada level dibawah Rp13.000 per US$. (*)
Page: 1 2
Poin Penting Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat… Read More
Poin Penting IHSG melonjak 4,42% ke level 7.279, dengan mayoritas saham (623) ditutup menguat. Seluruh… Read More
Poin Penting KPPU menjatuhkan denda total Rp755 miliar kepada penyelenggara pindar atas pelanggaran penetapan bunga.… Read More
Poin Penting: Biaya haji 2026 terancam naik signifikan akibat kenaikan harga avtur, asuransi, dan tekanan… Read More
Poin Penting Ancaman siber makin kompleks dan canggih (APT, AI, eksploitasi mobile), berdampak pada operasional,… Read More
Poin Penting SIPF belum memiliki payung hukum kuat, karena belum diatur dalam undang-undang meski risiko… Read More