News Update

Pengguna Jago Terhubung Bibit-Stockbit Tembus 3 Juta, Investasi Naik 80 Persen

Poin Penting

  • Pengguna Aplikasi Jago terhubung Bibit-Stockbit tembus 3 juta per Januari 2026, tumbuh 38% secara tahunan.
  • Nilai investasi nasabah melonjak hampir 80% sepanjang 2025, dengan lebih dari separuh transaksi memakai RDN Jago.
  • Investor didominasi usia produktif, 95% berusia 17-44 tahun, dengan generasi Z hampir 65%.

Jakarta — PT Bank Jago Tbk mencatat lonjakan signifikan pada aktivitas investasi nasabah seiring integrasi Aplikasi Jago dengan platform investasi Bibit dan Stockbit. 

Per Januari 2026, lebih dari 3 juta pengguna Aplikasi Jago telah terhubung dengan kedua platform tersebut. Angka ini tumbuh sekitar 38 persen secara tahunan (year-on-year/YoY).

Digital Product Lead Bank Jago, Yusuf Aria Putera, mengatakan, populasi nasabah tersebut telah membuat hampir 4,5 juta “Kantong” untuk tujuan investasi di Bibit dan Stockbit. 

Dari jumlah tersebut, lebih dari separuh menggunakan Rekening Dana Nasabah (RDN) Jago sebagai sarana transaksi investasi pasar modal.

“Kesadaran nasabah Bank Jago untuk berinvestasi meningkat pesat setiap tahunnya, terlihat dari nilai investasi mereka di Bibit dan Stockbit yang meningkat hampir 80 persen sepanjang 2025,” ujarnya, dikutip Senin, 2 Februari 2026.

Dominasi Usia Produktif

Dari sisi demografi, mayoritas investor pengguna Aplikasi Jago yang terhubung dengan Bibit dan Stockbit berasal dari kelompok usia produktif. 

Baca juga: Jurus Bank Jago Tekan Credit to Income Ratio

Sekitar 95 persen berada pada rentang usia 17-44 tahun, dengan dominasi generasi Z mencapai hampir 65 persen, sementara milenial menyumbang sekitar 30 persen.

“Kalau dilihat data, lebih dari 5 persen populasi berusia 17-19 tahun. Artinya pelajar dan mahasiswa juga sudah banyak yang melek investasi, dan itu tersebar di hampir semua kota di Indonesia,” ungkapnya.

Tips Investasi Pemula

Yusuf juga memperkenalkan konsep 3C: Curious, Critical, dan Conscious, sebagai tips investasi bagi pemula. Menurutnya, investasi yang sehat dimulai dari rasa curious atau ingin terus belajar dan mencoba hal baru secara terukur, agar tetap bertumbuh tanpa kehilangan kendali. 

Baca juga: Perluas Akses Investasi, Produk DPLK Sucor AM Kini Dipasarkan di Aplikasi Bibit

Setelah itu, investor perlu bersikap critical dengan menyaring informasi dan memastikan paham akan mekanisme maupun risiko investasi sehingga tidak mudah terpengaruh rekomendasi orang. 

Terakhir, barulah bersikap conscious, yakni mengambil keputusan untuk investasi secara sadar dan mindful sesuai dengan kondisi pribadi.

“3C bukan sekadar konsep, tapi kompas dalam berinvestasi: curious membuat kita terus bertumbuh tanpa kehilangan kendali, critical melindungi dari keputusan impulsif dan conscious menjaga agar kita tidak salah arah,” pungkasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

OJK Tekankan Transparansi dalam Reformasi Pasar Modal RI

Poin Penting OJK percepat reformasi pasar modal melalui delapan rencana aksi untuk memperkuat likuiditas, transparansi,… Read More

3 hours ago

Sibuk Kerja dan Kejar Deadline?

Poin Penting Asuransi kesehatan penting di tengah gaya hidup sibuk dan biaya medis yang terus… Read More

3 hours ago

IHSG Masih Tertekan, OJK Minta Investor Pasar Modal Tetap Tenang

Poin Penting OJK menegaskan fundamental dan prospek jangka panjang pasar modal Indonesia masih sangat baik,… Read More

5 hours ago

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng KONI, Klaim Atlet Tembus Rp31 Miliar

Poin Penting BPJS Ketenagakerjaan dan KONI memperluas perlindungan atlet, dengan 265 ribu pelaku olahraga terdaftar… Read More

5 hours ago

Simak! Ini Hasil Pertemuan OJK dan BEI dengan MSCI

Poin Penting OJK dan BEI paparkan 8 aksi reformasi pasar modal ke MSCI, dengan fokus… Read More

5 hours ago

DBS Indonesia Tambah Pendanaan Rp3 Triliun ke Kredivo, Ini Peruntukannya

Poin Penting DBS Indonesia meningkatkan pendanaan channeling ke Kredivo menjadi Rp3 triliun, sejalan dengan pertumbuhan… Read More

6 hours ago