Keuangan

Pengeluaran Naik, Warga RI Atur Kembali Tabungan dan Utang

Jakarta – Kenaikan biaya hidup yang terus berlanjut mendorong masyarakat Indonesia untuk menyesuaikan strategi mengatur keuangan pribadi. Laporan terbaru dari YouGov, lembaga riset konsumen global, mengungkap bagaimana masyarakat Indonesia menghadapi tekanan ekonomi dengan mengubah cara mereka menabung, berutang, dan berinvestasi. 

Studi ini menggambarkan bagaimana masyarakat bertahan di tengah pendapatan yang stagnan dan pengeluaran yang meningkat selama setahun terakhir,” kata General Manager YouGov Indonesia Edward Hutasoit, dikutip Rabu, 2 Juli 2025.

Menurutnya, laporan yang sama juga menunjukkan bahwa optimisme tetap kuat, dengan banyak responden mengambil langkah nyata agar tetap bertahan secara finansial.

Baca juga : Ini Cara Bank Raya Ajak Masyarakat Gencar Menabung

Mayoritas Menabung di Bawah Target

Ia menjelaskan, berdasarkan survei daring terhadap 2.067 responden dewasa yang mewakili populasi online nasional, sebanyak 53 persen pekerja penuh waktu mengatakan bahwa mereka menabung lebih sedikit dari rencana, hanya 23 persen yang mampu menabung lebih banyak dari yang ditargetkan. 

Di kalangan yang tidak bekerja secara formal, 33 persen tidak bisa menabung sama sekali, bahkan 18% menyatakan simpanan mereka justru menurun. 

“Meski sebagian masyarakat mulai lebih disiplin—misalnya mencatat pengeluaran atau menunda pembelian besar—banyak yang tetap fokus pada kebutuhan jangka pendek, dan 37 persen sudah mulai menggunakan dana darurat,” jelasnya. 

Pinjaman Jadi Solusi

Sementara itu, untuk menghadapi tekanan biaya hidup kata Edward, banyak masyarakat menjadikan pinjaman sebagai solusi. Lebih dari setengah responden (54 persen) mengambil pinjaman dalam 12 bulan terakhir, terutama dari kalangan Milenial (59 persen) dan Gen X+ (58 persen). 

Baca juga : BNI Sekuritas Dorong Gen Z Menabung Lewat Konsep Soft Saving

Sumber digital dan informal mendominasi, yakni 36 persen mengaku semakin sering menggunakan pinjaman online atau menjual barang berharga. Sementara itu, lebih dari seperempat responden melaporkan peningkatan penggunaan kredit bank (28 persen), layanan Pay Later (27 persen), dan pinjaman dari keluarga atau teman (27 persen).

Generasi Sandwich—yang menopang anak sekaligus orang tua atau saudara—mengambil pinjaman lebih banyak (62 persen) dan memanfaatkan berbagai jenis sumber kredit dibanding kelompok non-sandwich. 

Meski begitu, mayoritas responden (70 persen) masih mampu membayar pinjaman tepat waktu. Kelompok non-sandwich lebih sering mengalami keterlambatan atau gagal bayar (23 persen), sedangkan kelompok sandwich cenderung membayar sebagian (13 persen).

Aset Minim Risiko jadi Pilihan Investasi

Emas masih menjadi pilihan utama untuk berinvestasi, dipilih oleh 47 persen responden lintas generasi. Milenial paling cenderung memilih emas dan instrumen yang rendah risiko, sementara Gen Z menunjukkan kecenderungan lebih tinggi untuk berinvestasi di pasar modal (34 persen)—angka tertinggi dibanding generasi lain. 

Tingkat pendapatan juga sangat memengaruhi preferensi. Mereka yang berpenghasilan di atas Rp20 juta per bulan lebih memilih emas (72 persen), instrumen pasar modal (60 persen), dan properti (43 persen). Sementara itu, kelompok berpendapatan lebih rendah cenderung memilih emas dan menghindari risiko tinggi.

“Meski menghadapi pengeluaran yang meningkat dan pendapatan yang stagnan, masyarakat Indonesia tetap mampu beradaptasi secara praktis. Mereka mengurangi pengeluaran non-esensial, memanfaatkan kredit dan beradaptasi dengan tekanan finansial melalui langkah nyata,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

OTT KPK di Bea Cukai: Eks Direktur P2 DJBC Ditangkap, Uang Miliaran-Emas 3 Kg Disita

Poin Penting KPK melakukan OTT di lingkungan Bea Cukai Kemenkeu dan menangkap Rizal, mantan Direktur… Read More

4 hours ago

Istana Bantah Isu 2 Pesawat Kenegaraan untuk Prabowo, Ini Penjelasannya

Poin Penting Istana membantah kabar Presiden Prabowo menggunakan dua pesawat kenegaraan untuk perjalanan luar negeri.… Read More

4 hours ago

BTN Targetkan Pembiayaan 20.000 Rumah Rendah Emisi pada 2026

Poin Penting BTN menargetkan pembiayaan 20.000 rumah rendah emisi pada 2026, setelah menyalurkan 11.000 unit… Read More

4 hours ago

Apa Untungnya Danantara Masuk Bursa Saham? Ini Kata Pakar

Poin Penting Pakar menilai masuknya Danantara Indonesia ke pasar modal sah secara hukum dan tidak… Read More

4 hours ago

BTN Ungkap Penyebab NPL Konstruksi Tinggi, Fokus Bereskan Kredit Legacy

Poin Penting NPL konstruksi BTN berasal dari kredit legacy sebelum 2020 yang proses pemulihannya membutuhkan… Read More

5 hours ago

Risiko Bencana Tinggi, Komisi VIII Minta Anggaran dan Sinergi Diperkuat

Poin Penting Komisi VIII DPR RI menekankan sinergi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat penanggulangan… Read More

5 hours ago