BI: Permintaan Domestik Pacu Pertumbuhan Ekonomi 2018 Tetap Kuat
Jakarta – Bank Indonesia (BI) memastikan akan menerapkan kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) rata-rata atau GWM averaging pada 2017. Dalam penerapannya, BI berencana akan menerapkan GMW Averaging secara parsial atau bertahap.
Menurut Kepala Ekonom BCA David Sumual, langkah Bank Sentral untuk menerapkan kebijakan GWM Averaging secara parsial, lantaran memang setiap kebijakan moneter harus dilakukan lebih pruden (hati-hati).
“Ini kan penyesuaian harus dilihat dulu dampaknya. Waktu itu BI mengubah BI rate jadi BI 7 day RR itu kan melalui tahapan-tahapan juga. Namanya kebijakan moneter itu memang harus pruden, harus berhati-hati ya konservatif. Jadi tujuannya supaya lebih pruden,” ujarnya, di Jakarta, Rabu, 14 Desember 2016.
Selain itu, kata dia, penerapan GWM Averaging secara bertahap ini juga agar BI dapat melihat dampak dan respon kebijakan tersebut dari perbankan dan pasar keuangan.
“BI mungkin mau melihat seberapa besar dampaknya ada anomali atau tidak, kan kadang kebijakan itu bisa juga ditanggapi negatif di pasar. Jadi nggak bisa kita terapkan langsung kan kita harus lihat dulu dampaknya gimana jadi harus bertahap memang,” jelas David.
Sementara itu, Ekonom yang juga menjabat sebagai Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti menambahkan, diterapkannya GWM Averaging secara bertahap akan jauh lebih baik ketimbang dilakukan langsung. Pasalnya setiap bank punya kesiapan yang berbeda-beda.
“Mungkin kan karena dilihat dulu bbank bisa ngikutin atau tidak. Kalau terlalu berfluktuasi, misalnya skrg kan GWM 6,5%, kalau langsung dikenakan bisa saja kalau bank tidak berhati-hati posisi GWM-nya berfluktuasi takutnya kalau keterusan bisa saja jadi masalah likuiditas. Bank kita kan banyak sekali ada 118 bank dengan kondisi satu bank ke banknya beda-beda,” ucp Destry.
Sedangkan jika dibandingkan GWM yang diterapkan saat ini, Destry menilai, GWM Averaging lebih bagus dampaknya ke bank. Hal ini karena bank lebih fleksibel mengelola likuiditasnya setiap hari yang kadang transaksi keluarnya likuiditas lebih besar daripada transaksi masuk.
“Diterapkan secara bertahap jauh lebih baik ketimbang langsung diterapkan secara drastis, karena ini kan tiba-tiba satu hari langsung diterapkan average. Kalau saya sih setuju secara parsial dan penerapan GWM Averaging ini akan mempermudah bank dalam mengatur likuiditasnya,” tukas Destry.
Sebelumnya, dalam Pertemuan Tahunan BI, Gubernur BI Agus martowardojo memperkenalkan kebijakan GWM Averaging dan akan diterapkan pada Semester II 2017. Menurutnya, kebijakan ini merupakan best practice (praktik terbaik) yang sudah dijalankan di negara-negara maju.
“GWM Averaging adalah best practice di negara-negara yang sudah mapan. Untuk itu kita akan mempersiapkannya,” papar Agus.
Adapun pada GWM saat ini, BI menghitung dana milik bank yang disimpan di giro BI setiap waktu, bukan per periode. Misalkan, saat ini rasio GWM-Primer atau yang diartikan sebagai simpanan minimum bank dalam rupiah atau valas di BI sebesar 6,5%. Maka, setiap waktu bank harus menaruh 6,5% dari total Dana Pihak Ketiga bank di giro BI.
Setelah pemberlakuan GWM Averaging maka kewajiban bank dalam menaruh simpanan di giro BI akan dihitung secara rata-rata per periode. Harapannya, dengan GWM Averaging ini perbankan lebih mudah mengatur likuiditasnya sehingga ke depan kebutuhan likuiditas bisa disesuaikan. (*)
Oleh Anto Prabowo, Dosen FEB UNS Solo DI tengah dinamika kebijakan ekonomi nasional, munculnya dua… Read More
Dalam program tersebut, BSN memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi pegawai aktif yang memenuhi kriteria, baik… Read More
Pada ajang tersebut, CIMB Niaga meraih tiga penghargaan, masing-masing pada kategori Produk Wealth Management untuk… Read More
Poin Penting Tugu Insurance mencatat laba Rp711,06 miliar di 2025, meningkat dari Rp401,57 miliar (restated).… Read More
Poin Penting ICEx resmi diluncurkan sebagai platform infrastruktur aset kripto berstandar institusional, didukung modal USD70… Read More
Poin Penting Notional value transaksi ICDX mencapai Rp12.477 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 96%… Read More