Moneter dan Fiskal

Penempatan Rp200 Triliun ke Bank Dinilai Tekan Risiko Pelemahan Rupiah

Poin Penting

  • Pemerintah tempatkan Rp200 triliun di bank Himbara untuk melonggarkan likuiditas dan menekan tekanan terhadap rupiah.
  • Rupiah melemah akibat likuiditas longgar dan tekanan eksternal, termasuk pemangkasan suku bunga The Fed ke 4,25 persen.
  • BI tetap optimistis rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung inflasi rendah dan prospek ekonomi positif.

Jakarta – Penempatan dana likuiditas Rp200 triliun oleh Kementerian Keuangan pada bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dinilai bisa menekan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kebijakan ini juga mendorong lonjakan jumlah uang beredar sehingga membuat likuiditas sistem keuangan makin longgar.

“Tambahan Rp200 triliun ini akan mendorong peningkatan pertumbuhan jumlah uang yang beredar tinggi sekali. Ini dampaknya memang likuiditas di sistem keuangan juga melonggar,” kata Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto di Jakarta, Selasa, 23 September 2025.

Menurut Rully, nilai tukar rupiah telah menunjukkan tekanan dalam beberapa waktu terakhir, seiring dengan longgarnya likuiditas.

Baca juga: Dolar AS Tertekan, Rupiah Dibuka Menguat ke Level Rp16.592

“Jadi ini yang sudah kita rasakan dalam beberapa waktu terakhir. Dan hal ini memang juga cukup menarik di mana mungkin telah terjadi,” jelasnya.

Sementara itu, tekanan juga datang dari luar negeri. Di mana, The Federal Reserve (The Fed) AS memangkas suku bunga 25 basis poin ke level 4,25 persen. Adapun Bank sentral AS memberi sinyal pemangkasan lanjutan ke level 3,75 persen.

“Di sisi lain ada potensi tekanan inflasi. Jadi memang saat ini ada kekhawatiran pelemahan ekonomi yang disertai dengan adanya kenaikan ekonomi,” pungkasnya. 

Baca juga: Juda Agung Dilantik Jadi Anggota Dewan Komisioner OJK Ex-officio Gantikan Doni Joewono

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) angkat suara mengenai penyebab pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. 

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengungkapkan, tekanan kondisi global dan domestik menjadi penyebab melemahnya rupiah lebih dari Rp16.500 per dolar AS. Meski begitu, BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Tren nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dan cenderung menguat sejalan dengan komitmen BI dalam menjaga stabilitas rupiah, imbal hasil menarik, inflasi rendah dan prospek ekonomi yang baik,” tutur Pery dalam rapat kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Jakarta, Senin, 22 September 2025. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

KB Bank (BBKP) Balik Laba Rp66,59 Miliar di 2025, Ini Penopangnya

Poin Penting KB Bank balik laba Rp66,59 miliar di 2025 dari rugi Rp6,33 triliun pada… Read More

59 mins ago

Bank Mandiri Terbitkan Global Bond Pertama di Asia Tenggara Senilai USD750 Juta

Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More

2 hours ago

Rancangan Reformasi Pasar Modal Rampung, OJK Segera Temui Pimpinan MSCI

Poin Penting OJK rampungkan empat reformasi pasar modal untuk tingkatkan transparansi. OJK akan temui MSCI… Read More

2 hours ago

RI Raup Rp575 Triliun dari Jepang dan Korea Selatan, Ini Hasil Kunjungan Prabowo

Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More

3 hours ago

AAUI: Implementasi PSAK 117 Masih jadi PR Industri Asuransi Umum

Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More

3 hours ago

OJK Denda 233 Pelaku Pasar Modal di Kuartal I 2026, Capai Rp96 Miliar

Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More

3 hours ago