Foto: Prodia
Poin Penting
Jakarta – PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) berhasil menjaga kinerja bisnis di tengah dinamika ekonomi nasional dan global yang menantang sepanjang kuartal III 2025.
Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp1,58 triliun, relatif stabil meski turun tipis 1,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dan laba bersih Rp114 miliar.
Pertumbuhan tetap didorong oleh segmen esoterik dan non-laboratorium yang masing-masing mencatat penjualan Rp380 miliar dan Rp117 miliar. Kinerja positif dari berbagai segmen ini memperkuat fondasi bisnis Prodia di tengah tekanan eksternal.
Baca juga: Tingkatkan Layanan Digital, Prodia Siapkan Capex hingga Rp300 M
Direktur Utama PRDA, Dewi Muliaty, menjelaskan bahwa kondisi ekonomi yang dipengaruhi oleh inflasi dan fluktuasi nilai tukar rupiah turut menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan biaya operasional.
“Meski kondisi ekonomi menantang, kontribusi multi-segmen kami tetap menunjukkan hasil positif, menopang pendapatan konsolidasian sebesar Rp1,58 triliun pada kuartal III-2025. Kami juga memperluas jaringan rujukan hingga Timor Leste, Malaysia, dan Taiwan sebagai langkah menuju South East Asia (SEA) Referral Laboratory,” kata Dewi dalam keterangan resmi dikutip Minggui, 2 November 2025.
Sementara itu, dari posisi laba rugi, beban pokok penjualan meningkat moderat menjadi Rp673 miliar meningkat 5,4 persen dari Rp638 miliar yoy, dengan laba kotor tercatat Rp908 miliar, menunjukan marjin yang masih terjaga dengan baik.
Lalu, EBIT terjaga dengan baik sebesar Rp111 miliar, di mana laba sebelum pajak (EBT) mencapai Rp143 miliar dengan beban pajak Rp28,7 miliar sehingga menghasilkan laba bersih Rp114 miliar.
Baca juga: Prodia Bagikan Dividen Tunai Rp223 Miliar
Dari segi neraca, total aset mencapai Rp2,58 triliun, yang terdiri dari liabilitas sebesar Rp268 miliar dan ekuitas sebesar Rp2,31 triliun hingga akhir kuartal III-2025 yang memperkuat posisi keuangan Perseroan.
Adapun, indikator makro dan kebijakan pemerintah sendiri memberikan sentimen positif, termasuk rencana alokasi RAPBN 2026 sebesar Rp114 triliun untuk sektor kesehatan, sementara perbaikan terlihat di pasar modal, tercermin dari IHSG yang mencapai all-time high, menunjukan kepercayaan investor dan masyarakat tetap baik.
Dengan momentum tersebut, Prodia optimistis mempertahankan kinerja hingga akhir 2025 melalui strategi pengembangan layanan klinik maupun digital melalui U by Prodia, penerapan cost efficiency measurement, perluasan kerja sama strategis lintas regional, pembukaan cabang baru, serta penguatan inovasi dan kapabilitas internal untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting PINTAR BI periode kedua untuk wilayah Jawa dibuka 24 Februari 2026 pukul 08.00… Read More
Poin Penting BI mengimbau penurunan suku bunga kredit, direspons PT Bank Central Asia Tbk (BCA)… Read More
Poin Penting Penundaan 105.000 mobil dinilai melindungi industri otomotif nasional dari dampak negatif impor CBU.… Read More
Poin Penting Dugaan serangan siber Bank Jambi dinilai berisiko memicu krisis kepercayaan terhadap perbankan daerah.… Read More
Poin Penting Agrinas menyatakan siap menunda rencana impor 105 ribu kendaraan dari India mengikuti arahan… Read More
Poin Penting Saksi menyatakan tidak ada pembayaran Rp809,59 miliar kepada Nadiem Makarim dalam catatan transaksi… Read More