Keuangan

Pendapatan Rp5,02 Triliun, Kinerja BFI Finance Tetap Solid di Kuartal III 2025

Poin Penting

  • Pendapatan BFI Finance mencapai Rp5,02 triliun hingga kuartal III 2025, tumbuh 6,6 persen secara tahunan, diikuti kenaikan laba sebelum pajak dan laba bersih.
  • Beban operasional naik 9 persen akibat lonjakan biaya kredit sekitar 40 persen, namun bukan karena inefisiensi internal.
  • Pencadangan perusahaan sangat kuat, mencapai 2,6 kali total NPL, sehingga mampu meredam risiko kredit bermasalah.

Jakarta – BFI Finance kembali menunjukkan ketangguhannya memasuki kuartal III 2025, meski tekanan ekonomi dan industri pembiayaan masih cukup kuat.

Laporan kinerja perusahaan hingga kuartal III 2025 menunjukkan BFI Finance mampu menjaga pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, dan kualitas pencadangan di tengah lonjakan biaya kredit sepanjang tahun.

Total pendapatan hingga kuartal III 2025 tercatat mencapai Rp5,02 triliun, tumbuh 6,6 persen secara tahunan dibandingkan Rp4,71 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Keuangan BFI Finance, Sudjono, menjelaskan bahwa pertumbuhan pendapatan tersebut menjadi faktor utama pendorong kenaikan laba perusahaan.

“Dari sisi total pendapatan, itu juga terjadi pertumbuhan yang cukup sehat. Dan ini menjadi mendorong atas kenaikan laba sebelum pajak,” ujarnya dalam Public Expose secara virtual, Jumat, 28 November 2025.

Baca juga: Empat Dekade Bertahan, Begini Cara BFI Finance Tetap Tumbuh pada 2025

Seiring dengan peningkatan pendapatan, laba sebelum pajak naik menjadi Rp1,44 triliun atau tumbuh 4,8 persen secara tahunan. Sementara itu, laba bersih tercatat sebesar Rp1,17 triliun, meningkat 4,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Beban Operasional Naik, Dipicu Lonjakan Biaya Kredit

Di sisi lain, BFI Finance mencatat kenaikan beban operasional sebesar 9 persen, dari Rp2,63 triliun menjadi Rp2,86 triliun hingga kuartal III 2025.

Sudjono menegaskan bahwa peningkatan beban operasional tersebut tidak berasal dari inefisiensi internal perusahaan. Menurutnya, lonjakan terbesar justru bersumber dari biaya kredit yang naik sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya

“Kalau kita take out biaya kredit dari beban operasional, sebenarnya beban operasional itu malah turun dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.

Baca juga: BFI Finance (BFIN) Bocorkan Potensi Pembagian Dividen 2025, Bisa Tembus 75 Persen

Kendati biaya kredit meningkat signifikan, BFI Finance mampu meredam dampaknya melalui pencadangan yang sangat memadai. Saat ini, jumlah pencadangan yang telah dibentuk mencapai 2,6 kali lipat dari total non-performing loan perusahaan.

Sudjono menegaskan bahwa ketebalan cadangan tersebut memberi perlindungan kuat terhadap potensi kerugian yang muncul akibat kredit macet.

“Artinya perusahaan mampu untuk menutupi potensi kerugian yang timbul dari adanya pembiayaan yang mengalami macet atau tunggakan,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa pencadangan ini dipantau secara berkala dan selalu dijaga dalam level yang memadai, sehingga perusahaan tidak menghadapi risiko kejutan yang dapat menggerus laba secara tiba–tiba.(*) Alfi Salima Puteri

Yulian Saputra

Recent Posts

Respons BSI soal Perpanjangan Penempatan Dana SAL Rp200 Triliun

Poin Penting Pemerintah perpanjang penempatan dana SAL Rp200 triliun hingga September 2026 untuk menjaga likuiditas… Read More

10 mins ago

Harga Emas Antam Cs Naik Serentak, Ini Rincian Lengkapnya

Poin Penting Harga emas Antam, Galeri24, dan UBS kompak naik pada 24 Februari 2026 di… Read More

1 hour ago

Rupiah Dibuka Melemah di Level Rp16.835 per Dolar AS, Dipicu Sentimen Global

Poin Penting Rupiah dibuka melemah 0,20% ke level Rp16.835 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya… Read More

2 hours ago

Bank INA Optimistis Kredit Tumbuh 15–20 Persen di 2026, Lampaui Target OJK

Poin Penting Bank INA optimistis mampu melampaui target pertumbuhan kredit 8–12 persen dari OJK dengan… Read More

2 hours ago

IHSG Kembali Dibuka Naik 0,36 Persen ke Posisi 8.425

Poin Penting IHSG dibuka menguat 0,36% ke level 8.425,94 dengan nilai transaksi Rp415,39 miliar dan… Read More

2 hours ago

OJK bakal Hapus KBMI 1, Bank INA Bilang Begini

Poin Penting OJK siapkan penghapusan KBMI I dan mendorong bank bermodal inti Rp3 triliun–Rp6 triliun… Read More

3 hours ago