Direktur Keuangan BFI Finance, Sudjono dalam Public Expose secara virtual, Jumat (28/11). (Foto: Tangkapan layar/Alfi)
Poin Penting
Jakarta – BFI Finance kembali menunjukkan ketangguhannya memasuki kuartal III 2025, meski tekanan ekonomi dan industri pembiayaan masih cukup kuat.
Laporan kinerja perusahaan hingga kuartal III 2025 menunjukkan BFI Finance mampu menjaga pertumbuhan pendapatan, profitabilitas, dan kualitas pencadangan di tengah lonjakan biaya kredit sepanjang tahun.
Total pendapatan hingga kuartal III 2025 tercatat mencapai Rp5,02 triliun, tumbuh 6,6 persen secara tahunan dibandingkan Rp4,71 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Keuangan BFI Finance, Sudjono, menjelaskan bahwa pertumbuhan pendapatan tersebut menjadi faktor utama pendorong kenaikan laba perusahaan.
“Dari sisi total pendapatan, itu juga terjadi pertumbuhan yang cukup sehat. Dan ini menjadi mendorong atas kenaikan laba sebelum pajak,” ujarnya dalam Public Expose secara virtual, Jumat, 28 November 2025.
Baca juga: Empat Dekade Bertahan, Begini Cara BFI Finance Tetap Tumbuh pada 2025
Seiring dengan peningkatan pendapatan, laba sebelum pajak naik menjadi Rp1,44 triliun atau tumbuh 4,8 persen secara tahunan. Sementara itu, laba bersih tercatat sebesar Rp1,17 triliun, meningkat 4,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, BFI Finance mencatat kenaikan beban operasional sebesar 9 persen, dari Rp2,63 triliun menjadi Rp2,86 triliun hingga kuartal III 2025.
Sudjono menegaskan bahwa peningkatan beban operasional tersebut tidak berasal dari inefisiensi internal perusahaan. Menurutnya, lonjakan terbesar justru bersumber dari biaya kredit yang naik sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya
“Kalau kita take out biaya kredit dari beban operasional, sebenarnya beban operasional itu malah turun dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.
Baca juga: BFI Finance (BFIN) Bocorkan Potensi Pembagian Dividen 2025, Bisa Tembus 75 Persen
Kendati biaya kredit meningkat signifikan, BFI Finance mampu meredam dampaknya melalui pencadangan yang sangat memadai. Saat ini, jumlah pencadangan yang telah dibentuk mencapai 2,6 kali lipat dari total non-performing loan perusahaan.
Sudjono menegaskan bahwa ketebalan cadangan tersebut memberi perlindungan kuat terhadap potensi kerugian yang muncul akibat kredit macet.
“Artinya perusahaan mampu untuk menutupi potensi kerugian yang timbul dari adanya pembiayaan yang mengalami macet atau tunggakan,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa pencadangan ini dipantau secara berkala dan selalu dijaga dalam level yang memadai, sehingga perusahaan tidak menghadapi risiko kejutan yang dapat menggerus laba secara tiba–tiba.(*) Alfi Salima Puteri
Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan bahwa informasi yang menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa… Read More
Poin Penting OJK mendorong keterbukaan informasi pasar modal melalui sistem pelaporan elektronik AKSes KSEI dan… Read More
Poin Penting Penjualan emas BSI tembus 2,18 ton hingga Desember 2025, dengan jumlah nasabah bullion… Read More
Poin Penting Transaksi Syariah Card Bank Mega Syariah melonjak 48% pada Desember 2025 dibandingkan rata-rata… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tengah membahas penambahan satu lapisan cukai rokok untuk memberi… Read More
Poin Penting Permata Bank mulai mengkaji pengembangan produk BNPL/paylater, seiring kebijakan terbaru regulator, namun belum… Read More