Perbankan

Pendapatan Bunga Naik 29,83 Persen, Bank Mayapada Cetak Laba Rp23,70 Miliar di Juni 2025

Jakarta – Bank Mayapada Internasional (Bank Mayapada) mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 2,92 persen secara tahunan (yoy) pada semester I-2025. Laba bersih per Juni 2025 tercatat Rp23,70 miliar, turun dari Rp24,41 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pelemahan laba ini terjadi di tengah peningkatan pendapatan bunga yang cukup signifikan, tapi masih dibayangi oleh lonjakan beban bunga dan beban operasional lainnya.

Menguti laporan keuangan publikasi pada Selasa, 5 Agustus 2025, pendapatan bunga Bank Mayapada melonjak 29,83 persen yoy menjadi Rp6,41 triliun, naik dari Rp4,93 triliun pada Juni 2024. Sementara beban bunga naik 26,69 persen menjadi Rp4,88 triliun.

Hal ini menyebabkan margin yang didapat dari selisih bunga bersih (net interest income/NII) meningkat tajam sebesar 40,99 persen, dari Rp1,08 triliun menjadi Rp1,52 triliun. Kenaikan ini mendorong peningkatan net interest margin (NIM) dari 1,77 persen menjadi 2,52 persen. Peningkatan NIM ini mencerminkan kemampuan bank dalam mengelola aktiva produktifnya lebih efisien.

Baca juga: Rapor Semester I 2025 Bank Nobu Biru! Tumbuh di Atas Industri dan Laba Melonjak 82,58%

Tapi, perbaikan kinerja pada sisi pendapatan bunga tak cukup untuk menutupi lonjakan beban operasional lainnya, yang mengembang 41,96 persen menjadi Rp1,50 triliun. Akibatnya, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) mengalami sedikit kenaikan dari 99,46 persen menjadi 99,57 persen .

Nilai tersebut masih jauh di atas ambang ideal 85 persen, menandakan bahwa efisiensi operasional masih menjadi tantangan yang harus segera diatasi oleh manajemen Bank Mayapada di bawah kepemimpinan Direktur Utama Hariyono Tjahjarijadi.

Dari sisi fungsi intermediasi, bank dengan kode saham MAYA ini mencatat penurunan penyaluran kredit sebesar 0,75 persen menjadi Rp105,79 triliun per Juni 2025. Meski sedikit menurun, kualitas kredit justru menunjukkan perbaikan.

Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross turun dari 3,66 persen menjadi 3,26 persen, sedangkan NPL net juga membaik dari 2,80 persen menjadi 2,52 persen. Angka ini berada jauh di bawah batas aman yang ditetapkan regulator sebesar 5 persen, menunjukkan pengelolaan risiko kredit yang membaik dan patut diapresiasi.

Di sisi dana pihak ketiga (DPK), bank ini mencatat pertumbuhan 2,31 persen yoy, dari Rp122,83 triliun menjadi Rp125,68 triliun. Kenaikan terutama didorong oleh pertumbuhan deposito sebesar 3,70 persen, meskipun terjadi penurunan pada komponen giro dan tabungan masing-masing sebesar 9,53 persen dan 5,40 persen. Penurunan dana murah ini menjadi perhatian tersendiri dalam menjaga struktur pendanaan jangka panjang.

Rasio kredit terhadap DPK atau loan to deposit ratio (LDR) juga mengalami penurunan dari 86,43 persen menjadi 83,83 persen. Posisi LDR ini masih berada dalam rentang ideal 78 persen hingga 92 persen, dan patut diapresiasi karena mencerminkan manajemen likuiditas yang semakin hati-hati dan prudent.

Lebih jauh, total aset Bank Mayapada tumbuh tipis 1,23 persen yoy, dari Rp148,31 triliun menjadi Rp150,13 triliun. Tapi, modal inti susut 7,38 persen menjadi Rp12,77 triliun, turut menekan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) dari 11,86 persen menjadi 10,19 persen. Meskipun masih di atas batas minimum yang ditetapkan regulator, tren penurunan ini perlu diwaspadai untuk menjaga ketahanan permodalan ke depan.

Baca juga: Laba Bank Maspion Anjlok 50,31 Persen di Semester I 2025 Jadi Rp25,03 Miliar

Sementara itu, rasio profitabilitas seperti return on assets (ROA) dan return on equity (ROE) masing-masing tetap stagnan di angka 0,04 persen dan 0,36 persen. Hal ini mencerminkan bahwa kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari aset dan ekuitasnya belum mengalami peningkatan berarti.

Kinerja Bank Mayapada, yang dimiliki oleh taipan Dato Sri Tahir, hingga semester pertama 2025 terlihat masih menghadapi sejumlah tantangan struktural dalam meningkatkan efisiensi dan profitabilitas. Biar begitu, perbaikan pada pendapatan bunga bersih dan kualitas kredit menjadi modal penting bagi bank ini untuk memperkuat fundamentalnya dalam menghadapi semester kedua tahun 2025. (*) Ari Nugroho

Galih Pratama

Recent Posts

Rebranding Produk Tabungan BTN Pos, BTN Bidik Dana Murah Rp5 Triliun

Poin Penting BTN rebranding e’Batarapos menjadi Tabungan BTN Pos sebagai langkah strategis memperluas inklusi keuangan… Read More

4 hours ago

Aliran Modal Asing Masuk RI Rp1,44 Triliun pada Awal 2026

Poin Penting Aliran modal asing masuk Rp1,44 triliun di awal Januari 2026, mayoritas mengalir ke… Read More

11 hours ago

KPK Tetapkan 5 Tersangka Terkait OTT Dugaan Suap Pajak di KPP Madya Jakut

Poin Penting KPK tetapkan 5 tersangka OTT dugaan suap pajak KPP Madya Jakarta Utara. 3… Read More

12 hours ago

Begini Gerak Saham Indeks INFOBANK15 di Tengah Penguatan IHSG

Poin Penting IHSG ditutup menguat 0,13 persen pada perdagangan Jumat (9/1/2026), meski mayoritas indeks domestik… Read More

12 hours ago

Sempat Sentuh Level 9.000, IHSG Sepekan Menguat 2,16 Persen

Poin Penting IHSG menguat 2,16 persen sepanjang pekan 5-9 Januari 2026 dan sempat menembus level… Read More

13 hours ago

Rosan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Poin Penting Munas VII MES menetapkan Rosan Roeslani sebagai Ketua Umum dan Ferry Juliantono sebagai… Read More

19 hours ago