Moneter dan Fiskal

Pemerintah Tarik Utang Baru Rp127,3 Triliun di Januari 2026

Poin Penting

  • Pemerintah menarik utang baru Rp127,3 triliun per Januari 2026 (15,3 persen target APBN), lebih rendah dari Januari 2025 Rp153,33 triliun (23,7 persen)
  • Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut pembiayaan dilakukan lebih terukur sesuai kebutuhan kas dan kondisi pasar
  • Total pembiayaan anggaran Rp105,06 triliun, terdiri dari utang Rp127,3 triliun dan non-utang minus Rp22,2 triliun.

Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat pemerintah per Januari 2026 telah menarik utang baru sebesar Rp127,3 triliun untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Angka tersebut setara 15,3 persen dari target APBN 2026 senilai Rp648,09 triliun. Total pembiayaan utang APBN itu lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang senilai Rp153,33 triliun di Januari 2025 atau 23,7 persen dari APBN.

“Hingga 31 Januari 2026 realisasi pembiayaan utang tercatat sebesar Rp127,3 triliun atau 15,3 persen dari target APBN,” kata Juda Agung, Wakil Menteri Keuangan, dalam APBN Kita, dikutip, Rabu, 25 Februari 2026.

Baca juga: Utang Luar Negeri Perbankan Turun Tipis ke USD31,75 Miliar pada Desember 2025

Juda menjelaskan, realisasi pembiayaan APBN per Januari 2026 menunjukan strategi yang lebih terukur disesuaikan dengan kebutuhan kas pemerintah dan mempertimbangkan dinamika pasar keuangan.

“Dengan disiplin dan strategi yang adaptof kami memastikan pembiayaan tetap mendukung stabilitas APBN sekaligus menjaga keberlanjutan pengelolaan utang pemerintah,” jelas Juda.

Baca juga: Purbaya Nilai Utang Luar Negeri RI Masih Aman meski Meningkat

Juda menyebutkan secara keseluruhan, pembiayaan anggaran di Januari 2026 mencapai Rp105,06 triliun atau setara 15,2 persen dari target APBN yang senilai Rp522,83 triliun.

Pembiayaan tersebut terdiri atas pembiayaan utang sebesar Rp127,3 triliun dan pembiayaan non-utang sebesar minus Rp22,2 triliun. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Marak Joki Coretax di Medsos, Begini Tanggapan Menkeu Purbaya

Poin Penting Marak jasa joki Coretax di media sosial dengan tarif Rp50–100 ribu, memanfaatkan kesulitan… Read More

28 mins ago

Universal Banking di Depan Mata, OJK Soroti Tantangan Kesiapan IT Industri Perbankan

Poin Penting OJK kaji universal banking, yakni integrasi layanan keuangan (perbankan, asuransi, investasi, fintech) dalam… Read More

1 hour ago

IHSG Dibuka Rebound, Balik Lagi ke Level 7.000

Poin Penting IHSG dibuka menguat 0,19 persen ke level 7.002,69 pada awal perdagangan, berbalik dari… Read More

2 hours ago

Update Harga Emas Hari Ini (7/4): Antam, Galeri24, dan UBS Turun Berjamaah

Poin Penting Harga emas di Pegadaian kompak turun pada 7 April 2026 setelah sebelumnya stabil… Read More

2 hours ago

Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Tembus Level Rp17.076

Poin Penting Rupiah hari ini dibuka melemah ke Rp17.076 per dolar AS (turun 0,24 persen… Read More

2 hours ago

IHSG Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan 4 Saham Ini

Poin Penting IHSG diproyeksikan masih rawan koreksi ke rentang 6.745–6.849, meski skenario terbaik berpeluang menguat… Read More

3 hours ago