Lebih lanjut dia mengungkapkan, kenaikan tarif listrik melalui skema pencabutan subsidi listrik 18,7 juta pelanggan 900 Volt Ampere (VA), dianggap akan menjadi salah penyumbang inflasi terbesar di tahun ini, meskipun kenaikan tarif listrik tersebut dibagi menjadi setiap tiga bulan sekali.
“Karena administered prices-nya saja sudah mulai bergerak sejak bulan pertama dan masih ada kemungkinan-kemungkinan lain,” ucapnya.
Baca juga: Inflasi Administered Prices Picu Perlambatan Ekonomi 2017
Kendati demikian, kata dia, untuk menyeimbangkan komponen inflasi administered prices di tahun ini, pemerintah akan menjaga dari sisi komponen inflasi volatile food. Meski sejauh ini inflasi yang bersumber dari volatile food masih sulit dikendalikan lantaran sangat bergantung pada kondisi cuaca dan musim panen.
“Misalnya saja beras dengan padi hujannya ada tapi enggak banyak-banyak amat, kalau banyak banjir ya baru rusak. Jadi saya sulit mengatakan seperti apa persisnya, tapi kita coba kendalikan supaya tidak lebih dari 4 persen inflasinya,” tutup Darmin. (*)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Poin Penting Ancaman siber terus meningkat dan menyasar seluruh jenis bank, termasuk bank digital. Amar… Read More
Poin Penting PT Kawasan Industri Terpadu Batang menjalin kerja sama dengan PT Jateng Petro Energi… Read More
Poin Penting Dedi Mulyadi ajukan pinjaman daerah Rp2 triliun akibat kapasitas fiskal Jabar turun hampir… Read More
Poin Penting Bank Panin mencatatkan laba bersih Rp2,87 triliun, naik tipis 0,13 persen yoy, ditopang… Read More
Poin Penting BNI siapkan uang tunai Rp23,97 triliun untuk kebutuhan transaksi Ramadan dan Lebaran 2026… Read More
Poin Penting DJP mencatat penerimaan pajak ekonomi digital mencapai Rp47,18 triliun hingga Januari 2026, didominasi… Read More