Pemerintah Harus Waspada, Inflasi Bisa Sentuh 5%

Pemerintah Harus Waspada, Inflasi Bisa Sentuh 5%

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Inflasi adalah tantangan terbesar saat ini bagi pertumbuhan ekonomi setelah pandemi Covid-19 di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Pemerintah harus serius dalam menangani inflasi ini, terlebih dengan masih adanya lockdown di Tiongkok dan ketegangan geopolitik Rusia Ukraina yang menyebabkan gangguan rantai pasok global.

Lanjut Heriyanto, saat ini, inflasi di Indonesia masih di kisaran angka 3,5%, namun tidak menutup kemungkinan karena ada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), inflasi bisa diperkirakan naik menjadi 5%. Untuk itu Pemerintah harus lebih waspada menyikapi adanya kemungkinan-kemungkinan tersebut.

“Satu tantangan terbesar adalah slow-down secara global kalau kita ingat pada zaman pandemi global itu diguyur dengan dana yang kurang, tapi semua ini akan dibalikan sekarang sehingga ke depan kita akan balikan ekspektasi inflasi. Karena inflasi dan suku bunga tinggi serta balancing contraction sehingga kita bisa expect. Apakah negara di Afrika bisa mengalami resesi atau stagnansi, ini salah satu yang harus diperhatikan”, jelas, Heriyanto Irawan, Ekonom Verdhana Sekuritas, Jumat, 13 Mei 2022.

Di sisi lain, perbaikan ekonomi di Indonesia menjadi salah satu yang tercepat dibandingkan negara lain akibat dampak dari pandemi. Hal ini tercermin dari impor Indonesia yang naik menjadi 54% di atas sebelum pandemi, serta ekspor yang naik jauh lebih tinggi, sehingga surplus perdagangan Indonesia melebar dan sangat membantu stabilitas ekonomi dunia. Komoditas menjadi hal yang membuat ekspor tinggi, tapi juga ada tantangan dari global.

“Dalam 10 tahun ini pemerintah melakukan transformasi yang luar biasa, pemerintah hanya mendorong pertumbuhan tanpa memikirkan bagaimana mendanai pertumbuhan itu, karena kesenjangan tidak balance ini bisa membuat melemah. Sehingga fokus sekarang salah satunya bisa mendorong ekspor dan mendorong supply dari valuta asing kemudian mendanai pertumbuhan. Jadi, bagi kami perekonomian Indonesia itu tidak kekurangan sumber pertumbuhan, tapi belum bisa mendanai pertumbuhan itu, Harapan kami ke depan sudah mulai mendanai pertumbuhan sehingga kita bisa stabil,” jelas Heriyanto. (*) Irawati

 

Editor: Rezkiana Nisaputra

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]