Categories: Nasional

Pemerintah Gelar Rakor Bahas Logistik dan Pangan

Jakarta – Guna membahas permasalahan logistik dan kedaulatan pangan nasional, Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah berencana menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) yang akan dilaksanakan di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara mengungkapkan, rakor yang rencananya akan diselenggarakan pada 12 Februari 2016 ini, juga turut melibatkan Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, sehingga diharapkan menghasilkan komitmen dan langkah yang positif.

Selain itu, kata Tirta, pembahasan dalam rakor ini juga diharapkan dapat menghasilkan solusi bagi permasalahan daya dukung logistik yang belum memadai dan kapasitas produksi pangan yang terbatas, baik di NTT maupun di tingkat nasional.

“Rakor dengan Pemerintah Pusat dan Pemda dilaksanakan untuk membahas berbagai permasalahan terkait ekonomi di daerah, yang terkait juga dengan permasalahan nasional,” ujar Tirta di Jakarta, Selasa, 9 Februari 2016.

Rakor yang akan diselenggarakan di Kupang kali ini merupakan inisiasi Bank Sentral yang rutin dilaksanakan per-triwulan, sejak Agustus 2014. Sebelumnya, Rakor pernah dilaksanakan di Manado, Bandung, Ambon, Jakarta, Balikpapan dan Yogyakarta.

“Tema yang diangkat di tiap daerah berbeda-beda, mempertimbangkan kekhususan permasalahan masing-masing daerah,” tukasnya.

Menurutnya, beberapa tema yang pernah diangkat antara lain mengenai penguatan industri manufaktur, ekonomi berbasis maritim, serta pariwisata. Beberapa rakor, sebelumnya juga membahas mengenai pengembangan industri pangan.

Hal yang akan dibahas dalam rakor kali ini,  antara lain mengenai dinamika permasalahan logistik dan produksi pangan daerah dan imbasnya pada upaya stabilisasi harga di daerah. Selain itu, rakor juga akan mencermati kendala pembenahan logistik pangan di NTT, serta langkah kebijakan yang dapat ditempuh lebih lanjut.

“Secara khusus, langkah kebijakan diharapkan dapat memperkuat upaya pembenahan sistem logistik pangan, memperkuat kapasitas produksi pangan serta koordinasi kebijakan pusat dan daerah dan peran aktif Bank Indonesia,” ucapnya.

Dari sisi nasional, Pemerintah sendiri sejauh ini telah memprioritaskan pembenahan sistem logistik nasional 5 tahun ke depan yang menyasar peningkatan aktivitas perdagangan domestik. Hal ini dilakukan guna menekan rasio biaya logistik terhadap PDB dari 23,6% di 2015 menjadi 19,2% pada 2019, melalui peningkatan efisiensi jalur distribusi bahan pokok dan strategis.

“Bagi BI, upaya untuk mempercepat pembenahan logistik pangan dan kapasitas produksi pangan dapat memberikan optimisme bagi terjaganya stabilitas harga di daerah yang pada gilirannya akan mendukung upaya pencapaian sasaran inflasi nasional,” paparnya

Selin itu, tambah Tirta, pelaksanaan rakor ini juga diharapkan dapat menghasilkan poin-poin komitmen masing-masing pihak untuk mempercepat pembenahan sistem logistik dan produksi pangan, khususnya di NTT. (*) Rezkiana Nisaputra

Apriyani

Recent Posts

OJK Tunjuk Bank Kalsel Jadi Bank Devisa, Potensi Transaksi Rp400 Triliun

Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More

4 hours ago

Riset Kampus Didorong Jadi Mesin Industri, Prabowo Siapkan Dana Rp4 Triliun

Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More

5 hours ago

Peluncuran Produk Asuransi Heritage+

PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More

5 hours ago

DPR Desak OJK Bertindak Cepat Cegah Korban Baru di Kasus DSI

Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More

5 hours ago

Penyerahan Sertifikat Greenship Gold Gedung UOB Plaza

UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More

9 hours ago

BSI Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp51,78 Triliun per November 2025

Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More

12 hours ago