ESG Symposium 2024 Indonesia
Jakarta – Pemerintah mendukung langkah SCG, pemimpin bisnis regional dengan beragam unit usaha, dalam mendorong integrasi ekonomi dan keberlanjutan lingkungan untuk mewujudkan pertumbuhan hijau (Green Growth).
Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Vivi Yulaswati menegaskan pentingnya ekonomi hijau dalam mencapai target penurunan emisi kumulatif hingga 51,5 persen pada 2045, menciptakan lapangan kerja layak, serta menarik investasi.
“ESG menjadi kendaraan utama untuk mewujudkan keberlanjutan ini, seiring meningkatnya minat investor dan konsumen pada nilai berbasis keberlanjutan. Kami berharap ESG Symposium ini memacu kolaborasi lintas sektor, dengan pemerintah menyediakan regulasi pendukung dan industri mempercepat inovasi untuk transisi ekonomi hijau,” kata Vivi dalam sambutannya di ESG Symposium 2024 Indonesia, Selasa, 19 November 2024.
Baca juga: BI Dinilai Perlu Tahan Suku Bunga di Level 6 Persen, Ekonom Beberkan Alasannya
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menyatakan kebijakan sektor energi ke depan berfokus pada ketahanan energi dan transisi energi berkeadilan melalui efisiensi energi, percepatan energi baru terbarukan, dan pembangunan rendah karbon.
“Untuk mencapai Net Zero Emission (NZE), energi terbarukan perlu ditingkatkan tiga kali lipat dan efisiensi energi dua kali lipat, dengan geothermal sebagai andalan karena potensinya mencapai 23 GW,” ujar Eniya.
Eniya menjelaskan, kerangka kerja ESG harus terus ditingkatkan untuk menarik lebih banyak investasi, meminimalkan risiko, serta mendorong penghematan energi secara signifikan.
“Pemerintah juga akan mempercepat perizinan dan meningkatkan return on investment (IRR) sebesar 1,5 persen guna mendukung transformasi energi berkelanjutan,” ungkap Eniya.
Baca juga: Jadi Anggota Komite Eksekutif IOPS, OJK Siap Tingkatkan Kualitas Pengawasan Dapen
Selain itu, President & CEO SCG Thammasak Sethaudom menyampaikan, keberlanjutan bukanlah tujuan akhir, melainkan esensi dari bisnis SCG.
Sebagai salah satu kontributor ekonomi, SCG terus mengeksplor inisiatif dalam menerapkan end-to-end kegiatan operasional dan bisnis yang berkelanjutan, antara lain, dengan menciptakan inovasi produk hijau dan membangun infrastruktur hijau di Indonesia.
“Kami mendukung Indonesia Emas 2045 sebagai rencana strategis pembangunan nasional yang meliputi transformasi di seluruh bidang, termasuk lingkungan. Cita-cita ini dapat terwujud dengan kolaborasi yang terstruktur, dan kami siap menjadi mitra utama Indonesia,” jelas Thammasak.
Dalam kesempatan sama, SCG juga memperkenalkan inovasi produk Low Carbon Cement atau semen rendah karbon terbaru, yang akan dipasarkan di Indonesia dengan merek Bezt Eco Friendly Cement. Proses manufaktur produk ini menggunakan energi terbarukan dan bahan baku daur ulang seperti semen slag, abu terbang, dan limbah industri.
Baca juga: Veronica Tan Siapkan Platform Inovatif untuk Perlindungan Perempuan dan Anak
Dalam formulasinya, SCG menggunakan CACO3 Calcium Carbonate yang meningkatkan kekuatan beton dan gypsum untuk memperlambat pengerasan semen. Proses produksi dan formulasi produk tersebut berhasil mengurangi emisi CO2 hingga 50 kg per ton.
Produk ini berhasil mendapatkan skor 95 persen pada sertifikasi Green Label dan skor SNI 127 persen untuk tingkat ketahanan, 7 persen lebih tinggi dari produk-produk dengan harga serupa. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More
UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More
Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More
Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More
Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More
Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More