Pemerintah Diklaim Berhasil Jaga Lonjakan Harga Pangan Idul Fitri 2022

Pemerintah Diklaim Berhasil Jaga Lonjakan Harga Pangan Idul Fitri 2022

Pemerintah Diklaim Berhasil Jaga Lonjakan Harga Pangan Idul Fitri 2022
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Pemerintah Indonesia diklaim telah berhasil menahan lonjakan harga bahan pokok (bapok) selama momen Idulfitri 2022. Hal ini terlihat dari indikator beberapa harga bahan pokok selama momen lebaran tahun ini yang masih cukup terkendali.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyebut, capaian positif tersebut bisa terlihat dari indikator harga pangan strategis seperti telur ayam ras, bawang, hingga gula pasir yang mengalami tren penurunan harga.

“Saya kira, ini bisa menunjukkan bahwa ketersediaan suplai bisa mengimbangi meningkatnya permintaan atau demand yang terjadi di bulan Ramadan dan juga periode lebaran,” ujarnya seperti dikutip di Jakarta, Minggu, 8 Mei 2022.

Namun demikian, Rendy menyebut, sebenarnya manajemen stok bahan pokok tersebut memang tidak bisa disamaratakan bagus pada momen ini. Pasalnya, komoditas pangan spesifik seperti minyak goreng yang masih berada pada tren harga relatif tinggi.

“Terutama untuk minyak goreng dalam bentuk kemasan atau bermerek. Minyak goreng harganya relatif masih tinggi sepanjang Ramadan,” ucapnya.

Secara keseluruhan, dirinya memprediksi, ke depan harga komoditas pangan di dalam negeri akan melandai secara bertahap. Seiring normalisasi permintaan bahan pokok karena berakhirnya momentum Ramadan.

Sementara untuk minyak goreng, dinamika harganya akan ditentukan seberapa optimal kebijakan pengelolaan tata niaga komoditas tersebut. Termasuk di dalamnya kebijakan larangan ekspor CPO dan produk turunannya yang berlaku sejak Kamis (28/4).

Hal yang perlu diperhatikan dalam kebijakan ini adalah ketidakpatuhan oleh oknum tertentu atas pengaturan dalam kebijakan ini. “Hal ini perlu diantisipasi dengan mengitensifkan proses pengawasan CPO di hulu,” tegasnya.

Terhadap bahan pokok, berdasarkan pantauan Kemendag, per 5 Mei 2022, harga beragam bapok mengalami penurunan tipis dibanding sehari sebelumnya. Misalnya, harga daging sapi paha belakang yang turun 0,77% menjadi Rp142.600/kg dan daging ayam ras turun 0,98% menjadi Rp40.400/kg.

Kemudian, cabai merah besar turun 4,24% menjadi Rp40.400/kg, cabai merah keriting turun 5,47% menjadi Rp46.700/kg, dan cabai rawit merah turun 4,92% menjadi Rp50.200/kg. Sementara bawang merah juga turun 1,83% menjadi Rp37.500/kg, serta bawang putih honan turun 0,98% menjadi Rp30.400/kg.

Mendag Muhammad Lutfi, sebelumnya juga menegaskan, pihaknya berupaya keras menstabilkan harga bahan pokok dan pasokannya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Reynaldi Sarijowan mengingatkan, agar pemerintah segera mempersiapkan dan mengantisipasi ketersediaan pasokan bahan pokok di pasar pasca Idul fitri. Sekaligus fokus pada upaya distribusi secara merata di pasar.

Dirinya begitu menanti upaya pemerintah, utamanya Kemendag terhadap proses pendistribusian pasokan bapok. Ia mewanti, kesalahan pada upaya ini bakal membuat lonjakan bahkan disparitas harga yang cukup tinggi pada komoditas pangan ke depan.

“Seperti minyak goreng kemasan harganya Rp23.000/liter, (padahal) minyak goreng curah ditetapkan pemerintah Rp14.000/liter, ini jauh terpautnya. Maka, ketersediaan (bapok) ini jadi penting,” terang Reynaldi.

Di kesempatan berbeda, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyimpulkan kenaikan harga pangan di masa menjelang lebaran masih dalam tataran wajar. KPPU juga menyimpulkan, belum terdapat adanya sinyal-sinyal yang mengarah pada potensi pelanggaran persaingan usaha.

Pernyataan tersebut berdasarkan pengamatan yang dilakukan atas sembilan komoditas bahan pokok, seperti beras, minyak goreng, cabai, gula, dan sebagainya.

Komisioner KPPU, Chandra Setiawan menyampaikan, dari pengawasan tersebut, KPPU melihat bahwa stok komoditas pangan masih mencukupi dengan gejolak harga yang masih sesuai dengan mekanisme pasar.

“Secara umum, tindakan tertentu akan dilakukan KPPU apabila terjadi kenaikan harga komoditas pangan yang tinggi, namun tidak terjadi kekurangan stok menurut prognosa neraca pangan,” katanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]