News Update

Pembobolan DBS Singapura Selesai Disidangkan

Jakarta – Kasus pembobolan dana nasabah DBS Bank Singapura yang melibatkan tiga WNI akhirnya selesai disidangkan. Ketiga terdakwa dinilai terbukti melakukan tindak pidana transfer dana, pemalsuan, dan pencucian uang.

Ketiga WNI terpidana kasus pembobolan DBS Singapura senilai 1.860.000 dolar AS atau setara Rp25 miliar itu adalah RSD, IAK, dan FFH. Sementara, pelaku berwarga negara Nigeria, EAM, masih buron.

Setelah melakukan upaya hukum naik banding, ketiganya masing-masing divonis 6 tahun penjara, 3,5 tahun penjara, dan 4 tahun penjara.

Hal itu diungkapkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), Herdian Malda Ksatria, sesuai fakta persidangan, ketika ditemui media di PN Tangerang, Jumat, 8 Februari 2019 lalu.

Sebelumnya, Penyidik Dittipideksus Bareskrim Mabes Polri, Kompol Hendrawan, juga menjelaskan hal ini.

Menurut Malda Ksatria, beberapa pasal yang dikenakan ke pelaku adalah, Pasal 85 UU No 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana dan atau Pasal 263 (2) KUHP dan Pasal 3 dan atau Pasal 5 dan atau 10 UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Modus pembobolan yang digunakan pelaku, menurut Malda, sebenarnya sangat sederhana, yaitu meretas akun email Yahoo milik nasabah (korban), Elen, sehingga setiap surat keluar ke DBS terbaca. Kemudian dibuatlah surel konfirmasi palsu yang dikirimkan ke DBS.

DBS dapat menerima surel palsu dari peretas tanpa terdeteksi. Peretas juga mengirimkan surel kepada korban dengan berpura-pura sebagai Bank DBS yang mengirimkan info bahwa saldo rekening masih tetap. Hal ini menyebabkan korban tidak menduga sedang terjadi pengurasan dana di rekeningnya.

Kasus yang disidangkan sejak awal 2017 ini menyedot perhatian masyarakat, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sebab, aksi pembobolan ini melibatkan jaringan sindikat internasional. Makanya, aliran dana hasil pembobolan menyebar hingga keluar negeri, antara lain ke Hongkong dan Shanghai.

Menurut Kompol Hendrawan selaku penyidik Perbankan Bareskrim Polri, pengungkapan jaringan sindikat internasional ini belum selesai dan masih ada tersangka lainnya yang di-DPO-kan untuk terus dilakukan pencarian, yaitu EAM, warga Nigeria, sebagai otak pelaku utama. (*)

Dwitya Putra

Recent Posts

Bank Mega Gandeng IKPI Perkuat Pemahaman Coretax ke Nasabah

Poin Penting PT Bank Mega menggandeng IKPI dan FlazzTax menggelar Seminar Coretax untuk mengedukasi nasabah… Read More

10 hours ago

40 Juta UMKM Belum Berizin, BKPM Siap Permudah Proses NIB

Poin Penting 15,2 juta NIB diterbitkan, 14,9 juta untuk usaha mikro; masih ada 40 juta… Read More

10 hours ago

Purbaya Sesuaikan Strategi Penempatan Dana di Perbankan dengan Kebijakan BI

Poin Penting Pemerintah memperpanjang penempatan Rp200 triliun di bank-bank milik negara hingga September 2026 untuk… Read More

11 hours ago

Duh! Program MBG Berpotensi Buang Uang Negara Rp1,27 Triliun per Minggu

Poin Penting Studi CELIOS menunjukkan Program MBG bisa membuang 62–125 juta porsi/minggu, merugikan negara Rp622… Read More

12 hours ago

OJK Tegaskan Tak Ada “Injury Time” Spin Off UUS Asuransi

Poin Penting OJK menegaskan tidak ada perpanjangan waktu, semua UUS asuransi wajib spin off paling… Read More

12 hours ago

Bursa Calon ADK OJK, Purbaya: Sudah Ada Kandidat Kompeten, tapi Belum Banyak

Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa ungkap sudah ada sejumlah pendaftar calon ADK OJK, terutama… Read More

13 hours ago