Poin Penting
Jakarta – Pembiayaan perbankan syariah diproyeksikan kembali mencatat pertumbuhan dua digit pada 2025–2026. Berdasarkan proyeksi ekonomi yang disusun oleh Office of Chief Economist (Kantor Ekonom) PT Bank Syariah Indonesia (BSI), pembiayaan bank syariah pada 2025 diperkirakan mencapai Rp709,6 triliun, naik 10,27 persen dari estimasi 2024 sebesar Rp643,5 triliun. Sedangkan, tahun 2026 angka itu kembali tumbuh 11,89 persen menjadi Rp794,0 triliun.
Pertumbuhan ini mencerminkan optimisme sektor keuangan syariah yang terus menguat, didorong basis nasabah yang bertambah dan perluasan ekosistem halal.
Chief Economist BSI, Banjaran Surya Indrastomo mengatakan bahwa percepatan pembiayaan syariah tidak terlepas dari naiknya permintaan di segmen usaha dan konsumer, serta pendalaman pasar keuangan syariah. Namun, ia menyoroti bahwa ekspansi yang agresif perlu dibarengi kewaspadaan terhadap risiko kualitas pembiayaan.
Baca juga: Begini Dukungan BSI dalam Pembiayaan UMKM untuk Dapur Program MBG
“Tahun ini agak menarik. Awalnya tekanan itu ada di korporasi, lalu muncul efek lanjutan di belakang terutama di sektor mikro. Jadi memang perlu ada penanganan khusus di pembiayaan mikro,” ujar Banjaran, dalam acara BSI Sharia Economic Outlook 2026 bertema “Indonesia 2026: Resilient, Bold, and Promising”, Kamis, 4 Desember 2025.
Selain itu, Banjaran menyebut bahwa ekosistem antara program pemerintah dan sektor riil belum sepenuhnya tersambung, sehingga berpotensi menahan perbaikan kualitas aset atau non performing financing/NPF di segmen mikro.
“Yang belum kelihatan sekarang itu adalah ekosistem antara program-program pemerintah dengan industri. Kalau ini bisa terhubung, amplifikasinya besar. UMKM kita itu sangat bergantung pada rumah tangga. Kalau rumah tangga masih tertekan oleh problem jangka pendek, permintaannya akan turun dan NPF mikro bisa naik,” tegasnya.
Ia juga melihat bahwa kontribusi dunia usaha akan menjadi penentu utama keberlanjutan pertumbuhan pembiayaan syariah. Menurut Banjaran, 90 persen pergerakan ekonomi nasional masih bergantung pada swasta, bukan pemerintah.
“Kalau swasta tidak bergerak, ekonomi kita juga tidak bergerak. Makanya ekosistem usaha harus diperkuat agar pembiayaan terus terserap,” tegasnya.
Baca juga: BSI Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh 5,28 Persen di 2026: “Purbaya Efek” Jadi Fondasi
Sementara itu, dari sisi dana pihak ketiga (DPK) perbankan syariah juga diperkirakan tumbuh stabil. Pada 2025, DPK bank syariah diproyeksi mencapai Rp846,7 triliun atau tumbuh 12,35 persen secara tahunan. Kemudian tahun 2026 kembali tumbuh 12,35 persen atau menjadi Rp952,9 triliun.
Dengan tren ini, market share perbankan syariah diperkirakan semakin mendekati target 10 persen, terutama jika ekspansi pembiayaan dapat dikombinasikan dengan pertumbuhan aset keuangan syariah lainnya. (*) Ayu Utami
Poin Penting Kereta Whoosh sempat berhenti akibat seng di jalur, namun sensor mendeteksi dini dan… Read More
Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More
Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More
Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More
Poin Penting IHSG melemah 0,99% dalam sepekan ke level 7.026,78, seiring mayoritas indikator pasar saham… Read More