Keuangan

Pembiayaan Multifinance Tembus Rp504,18 Triliun di April 2025, Tumbuh 3,67 Persen

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, Pulau Jawa masih mendominasi porsi penyaluran pembiayaan (multifinance) hingga April 2025.

“Per April 2025, porsi penyaluran pembiayaan di wilayah Pulau Jawa sebesar 55,12 persen. Nilainya itu Rp292,53 triliun,” kata Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, dalam Konferensi Pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Mei 2025, Senin, 2 Juni 2025. 

Sementara, porsi penyaluran pembiayaan di luar Pulau Jawa sebesar Rp238,21 triliun, atau sebesar 44,88 persen secara tahunan (yoy).

“Dilihat dari segi pertumbuhan, maka Provinsi Papua Selatan mengalami peningkatan terbesar, yaitu 86,39 persen yoy. Nilainya adalah Rp435,31 miliar di April 2025,” jelasnya.

Baca juga: OJK Optimistis Kredit Perbankan Bakal Tumbuh 11 Persen di 2025

Ia menjelaskan, potensi pembiayaan multifinance di luar Pulau Jawa masih sangat besar, terutama untuk mendorong inklusi keuangan dan juga pemeratan akses pembiayaan di daerah-daerah.

Pembiayaan Multifinance Secara Nasional

Secara nasional, dirinya mencatat hingga April 2025, penyaluran pembiayaan industri multifinance sebesar 3,67 persen yoy, atau menjadi Rp504,18 triliun. 

Adapun lima sektor yang secara ekonomi pembiayaannya terbesar adalah perdagangan, dengan outstandingnya sebesar Rp92,28 triliun.

Lalu, sektor ekonomi penyewaan Rp53,65 triliun, industri pengolahan Rp52,19 triliun, jasa lainnya Rp45,83 triliun dan pertambangan Rp45,26 triliun. 

Sementara itu, dari segi pertumbuhannya terdapat lima sektor ekonomi yang pertumbuhan terbesar. Pertama, ada sektor kesenian, hiburan dan rekreasi 56,92 persen yoy.

Kemudian, akomodasi dan makan minum 47 persen lebih. Selanjutnya, badan internasional 42,52 persen, kesehatan manusia dan aktivitas sosial 39,47 persen, dan jasa lainnya 29,75 persen.

Baca juga: Ada Pesan Penting dari OJK untuk Investor Pasar Modal, Apa Itu?

Di lain sisi, penurunan penjualan kendaraan motor turut berdampak pada perlambatan Peraturan Bank Indonesia (PBI) kendaraan baru oleh multifinance.

Oleh karena itu, industri multifinance terus didorong untuk memperluas portofonio ke sektor-sektor produktif lainnya guna menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan, serta tetap memperkuat peninjaman risiko dan tetap berolah di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Pergerakan Saham Indeks INFOBANK15 di Tengah Koreksi IHSG

Poin Penting IHSG turun 3,05% pada penutupan perdagangan 13 Maret 2026 ke level 7.137,21, diikuti… Read More

8 hours ago

Banyak Orang Indonesia Gagal Menabung karena Pola Keuangan Salah, Ini Solusinya

Poin Penting Banyak orang Indonesia gagal menabung karena pola keuangan yang keliru: penghasilan naik, pengeluaran… Read More

8 hours ago

Berikut 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 5,91% pada periode 9-13 Maret 2026 ke level 7.137,21, sementara kapitalisasi… Read More

8 hours ago

IHSG Sepekan Melemah Hampir 6 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp12.678 Triliun

Poin Penting IHSG melemah 5,91% selama pekan 9–13 Maret 2026 dan ditutup di level 7.137,21.… Read More

8 hours ago

LPS Bayarkan Rp14,19 Miliar Dana Nasabah BPR Koperindo

Poin Penting LPS mulai membayar klaim simpanan nasabah BPR Koperindo sebesar Rp14,19 miliar pada tahap… Read More

8 hours ago

YLKI Yakin Satgas Ramadan Pertamina Mampu Jaga Pasokan BBM dan LPG saat Mudik Lebaran 2026

Poin Penting YLKI menilai pembentukan Satgas Ramadan dan Idulfitri oleh Pertamina sebagai langkah positif untuk… Read More

9 hours ago