Jakarta – PT Batavia Prospeprindo Finance Tbk (BPFI) optimis kinerja pembiayaan tahun ini akan jauh lebih baik dari tahun lalu, seiring pemulihan kegiatan ekonomi. Perseroan pun membidik target pembiayaan bisa tembus Rp1,09 triliun hingga akhir 2022. Target ini cukup agresif, mengingat tahun lalu perseroan hanya menyalurkan pembiayaan sebesar Rp591,1 miliar.
“Tahun lalu, kami bertahan menyalurkan pembiayaan dari kas sendiri, sehingga beban keuangan bisa ditekan supaya masih bisa mencetak laba. Tahun ini, kami membidik penyaluran Rp1,09 triliun untuk lini bisnis mobil bekas maupun alat berat,” papar Indah Mulyawan, Direktur Keuangan Batavia Prosperindo Finance pada public expose yang digelar secara virtual, Kamis, 28 Juli 2022.
Segmen mobil bekas dan alat berat masih menjadi lini bisnis utama Batavia Finance. Dari target Rp1,09 triliun, sekitar Rp792 miliar untuk consumer finance, atau setara 9376 unit. Sedangkan segmen pembiayaan alat berat ditargetkan berkontribusi sebesar Rp300 miliar, atau setara 302 unit.
Direktur BPFI Hady Sutiono mengatakan, sebenarnya tantangan di semester II 2022 akan lebih berat, terutama di segmen mobil bekas. Alasannya, beberapa pemain multifinance di segmen ini sudah mulai agresif, dan masuk ke pasar dengan menawarkan down payment (DP) rendah.
“Tapi bagaimana pun juga, BPFI harus kompetitif di market dengan tetap mengikuti aturan dan policy yang ada,” ujar Hadi.
Hingga Juni 2022, BPFI sudah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp423,13 miliar. Angka itu setara 77% dari target perseroan di semester I 2022. Sementara dari sisi laba, pencapaiannya sudah melebihi target. Di paruh pertama 2022, perseroan menargetkan laba sebesar Rp24,18 miliar. Realisasinya mencapai Rp26,71%, atau setara 110,44% dari target.
Mengacu pada laporan keuangan BPFI, laba bersih perseroan yang mencapai Rp26,71 miliar tersebut melesat 70% ketimbang periode sama tahun 2021 sebesar Rp15,69 miliar. Pencapaian laba ini ditopang keberhasilan BPFI melakukan efisiensi hingga beban usahanya berhasil ditekan signifikan.
Terkait akan adanya perubahan pemegang saham pengendali (PSP) di Batavia Finance, Indah mengaku masih berproses. Mungkin akan terealisasi pada Agustus atau September nanti. Rencana perubahan PSP ini juga belum berdampak pada lini bisnis perseroan.
“Informasinya masih tetap sama. Mungkin nanti setelah terealisasi perubahan PSP akan lebih jelas apa yang akan dilakukan pemegang saham baru. Sampai saat ini rencananya tidak ada perubahan lini bisnis,” ujarnya.
Sebagai informasi, investor asal Korea Selatan, yakni Woori Card Co, Ltd sedang dalam proses mengakuisisi 82,03 saham BPFI. Aksi korporasi ini akan menjadikan Woori Card sebagai pemegang saham pengendali baru di BPFI. (*) Ari Astriawan.
Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More
PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More
Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More
UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More
Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More