Hunian Subsidi MGK Serang. (Foto: istimewa)
Poin Penting
Jakarta – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat kinerja positif pada pembiayaan konsumer sepanjang 2025. Hal ini terlihat dari pembiayaan produk BSI Griya mencapai Rp69,98 triliun.
Angka ini menempatkan BSI di posisi Top 6 bank penyalur pembiayaan perumahan secara nasional dengan kualitas pembiayaan sehat.
Direktur Retail Banking BSI, Kemas Erwan Husainy mengatakann, segmen konsumer khususnya griya menjadi segmen yang terus dibidik perseroan, karena perumahan menjadi salah satu sektor kebutuhan dasar masyarakat dan juga mendorong pertumbuhan bisnis konsumer.
Ia menjelaskan, rata-rata tren booking Rp1 triliun per bulan yang didominasi pembelian rumah pertama Rp500 juta hingga Rp2 miliar, take over, renovasi maupun kebutuhan lainnya.
Adapun, mayoritas didominasi nasabah muda (Gen Y dan Gen Z) yakni sekitar 60 persen dari portfolio BSI Griya atau sekitar 200 ribu anak muda. Ini berarti anak-anak muda sudah mulai memilih pembiayaan rumah sesuau syariah yang memang kompetitif dan bersaing.
Baca juga: BSI Hadirkan Pavilion Heritage di Bogor, Jadi Pusat Layanan Syariah Terpadu
“Kebutuhan rumah tapak masih memiliki ruang besar untuk pertumbuhan signifikan, terutama untuk rumah pertama. Hal ini terlihat dari tren pembiayaan griya BSI yang mayoritas Gen Z pada kisaran harga rumah Rp500 Juta hingga Rp1 miliar,” ujar Kemas, dalam keterangannya, Kamis, 22 Januari 2026.
Ia menambahkan, pertumbuhan positif ini juga didorong berbagai benefit pembiayaan BSI Griya yang dirasakan masyarakat. Yakni, margin angsuran yang kompetitif dan pasti sampai lunas, proses yang mudah dan cepat, pilihan skema syariah yang transparan, bebas denda, bebas biaya provisi dan appraisal hingga Rp5 miliar, biaya administrasi mulai Rp0,- serta fleksibilitas pembiayaan hingga jangka waktu 30 tahun.
Lanjutnya, BSI mengapresiasi langkah pemerintah terkait kebijakan dan stimulus untuk meningkatkan demand pembelian rumah terkait perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) atas penyerahan rumah tapak dan satuan rumah susun.
Kebijakan ini kata dia dinilai sebagai sinyal positif atas keberpihakan Pemerintah terhadap kepemilikan rumah bagi masyarakat kecil menengah.
Baca juga: BSI Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp51,78 Triliun per November 2025
Selain perumahan komersial, BSI juga mendukung program tiga juta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan harga jual mulai dari Rp166 juta tergantung wilayah, dan turut berkontribusi sekitar 9,44 persen dari keseluruhan pembiayaan griya.
Untuk memperluas jangkauan griya, saat ini BSI bekerjasama dengan lebih dari 2700 pengembang/developer yang bisa diakses masyarakat. Mulai dari pembelian rumah ready stok, indent maupun rumah second.
“Tahun ini kami akan tetap melanjutkan penjualan rumah di kawasan-kawasan strategis, terutama Jabodetabek dan kota-kota potensial lainnya seperti kawasan industri yang menyerap banyak tenaga kerja”, ujarnya.
Optimisme itu didasarkan pada kebutuhan rumah yang masih tinggi dan adanya berbagai stimulus ekonomi dari pemerintah seperti perpanjangan Pajak Pertambahan Nilai Di Tanggung Pemerintah (PPN DTP), program tiga juta rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Ekonomi budaya dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan SDA karena budaya tidak akan habis, sementara… Read More
Poin Penting Sektor keuangan berperan strategis dalam pelestarian aset budaya melalui pembiayaan khusus budaya, asuransi… Read More
Poin Penting Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan kebudayaan bukan beban anggaran, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi… Read More
Poin Penting PT Bank DBS Indonesia menunjuk Triana Gunawan sebagai Komisaris Independen efektif per 31… Read More
Poin Penting OJK menegaskan kredit macet tanpa unsur fraud bukan tindak pidana, melainkan risiko bisnis… Read More
Poin Penting Komisi XI DPR RI mendorong OJK mempercepat pengaturan IAKD dan aset kripto yang… Read More