Sebuah TV menampilkan informasi keuangan di lantai Bursa Efek New York di New York, AS, pada 7 April 2025
Jakarta – Pasar Saham Amerika Serikat (AS) sebagian besar anjlok, sejak Senin, 7 April 2025. Tren pelemahan ini terus berlanjut setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana tarif impor baru pekan lalu.
Dinukil Al Jazeera, Selasa, 8 April 2025, indeks acuan S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average masing-masing turun 0,23 persen dan 0,91 persen pada perdagangan Senin.
Kondisi ini mencatatkan kerugian selama tiga hari berturut-turut. Sementara itu, Nasdaq Composite mencatat kenaikan tipis sebesar 0,099 persen.
Baca juga: Hindari Eskalasi Perang Dagang, Uni Eropa Siap Tawarkan Tarif 0 Persen ke AS
Sebagai informasi, penurunan pasar saham AS terjadi di tengah perdagangan yang tidak stabil, setelah muncul laporan bahwa Trump tengah mempertimbangkan jeda 90 hari untuk tarif barunya, yang sempat mendorong indeks S&P 500 naik lebih dari 7 persen.
Meski pasar AS turun, namun beberapa pasar Asia dibuka lebih tinggi pada hari Selasa, 8 April 2025. Indeks acuan Nikkei 225 Jepang misalnya, naik hampir 6 persen pada awal perdagangan.
Lalu Indeks Hang Seng Hong Kong naik lebih dari 2,3 persen, setelah mengalami penurunan terbesar sejak krisis keuangan Asia 1997 pada sesi sebelumnya.
Termasuk juga Indeks Kospi Korea Selatan dan ASX 200 Australia naik sekitar 1,5 persen. Namun, saham di Indonesia, Taiwan, dan Vietnam dibuka turun tajam.
Baca juga: IHSG Terjun Bebas saat Bursa Asia Menguat, Semua Sektor Melemah
Di tengah kekhawatiran pasar, Trump pada Senin memberikan sinyal akan meningkatkan tensi perang dagangnya.
Dalam unggahan di platform Truth Social, ia menyatakan akan mengenakan tarif tambahan sebesar 50 persen pada Tiongkok mulai Kamis, 10 April 2025, jika Negeri Tirai Bambu tidak membatalkan rencana tarif balasan sebesar 34 persen terhadap barang-barang AS.
“Selain itu, semua pembicaraan dengan Tiongkok mengenai pertemuan yang mereka minta dengan kami akan dihentikan!” kata Trump.
Baca juga: Alamak! Pasar Saham AS Bakal Amblas 20 Persen Gegara Tarif Trump
Saat berbicara di Gedung Putih, Trump juga menilai bahwa tawaran Uni Eropa untuk membebaskan produk industri dari tarif masih belum cukup, serta menegaskan bahwa pemerintahannya “tidak melihat” adanya jeda atas tarif yang telah diumumkan.
Sementara itu, Kementerian Perdagangan Tiongkok pada hari Selasa membalas ancaman tarif terbaru Trump dan menyebutnya sebagai “kesalahan di atas kesalahan”.
“Tiongkok tidak akan pernah menerima ini,” kata seorang juru bicara kementerian.
“Jika AS bersikeras untuk menempuh jalannya sendiri, Tiongkok akan melawannya sampai akhir,” tambah juru bicara tersebut.
Baca juga: Donald Trump “Brutal”, Rupiah “Bonyok”, Intervensi BI “Cespleng”?
Diketahui, Otoritas Bea Cukai AS mulai memberlakukan tarif dasar sebesar 10 persen pada impor sejak Minggu. Sementara itu, tarif yang lebih tinggi berkisar antara 11-50 persen, akan mulai berlaku terhadap puluhan negara pada Rabu.
China, sebagai pesaing strategis utama AS dan mitra dagang terbesar ketiganya, menghadapi tarif sebesar 34 persen.
Negara-negara sekutu seperti Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan juga harus bersiap menghadapi tarif masuk sebesar 20-25 persen terhadap produk ekspor mereka. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin penting Mantan Menteri Kehakiman China Tang Yijun divonis penjara seumur hidup atas kasus suap… Read More
Poin Penting BNI membukukan laba bersih Rp20 triliun sepanjang 2025, ditopang pertumbuhan kredit 15,9% ke… Read More
Poin Penting KB Bank melalui GenKBiz Yogyakarta mendukung wirausaha muda berbasis ESG dengan program inkubasi… Read More
Poin Penting OJK berencana menaikkan batas minimum free float emiten menjadi 15 persen dari saat… Read More
Poin Penting KBMI 1 mencakup 59 bank atau 56 persen bank umum nasional. Meski aset… Read More
Poin Penting BSI resmi berstatus Persero sejak 23 Januari 2026 dan menegaskan fokus penguatan bisnis… Read More