Properti

Pasar Properti RI Diproyeksi Tumbuh Stabil, Berikut Pendorongnya

Poin Penting

  • Pertumbuhan properti Jakarta diperkirakan stabil berkat fondasi ekonomi Indonesia yang kuat, dengan proyeksi pertumbuhan 5 persen hingga 2027 dan target pemerintah 6–8 persen pada 2029.
  • CBD tanpa suplai baru dua tahun terakhir dengan okupansi 75 persen, sementara non-CBD mencatat okupansi 73 persen; keduanya memiliki suplai mendatang terbatas.
  • Segmen industrial dan retail menunjukkan pemulihan, dengan industrial mencatat okupansi tinggi 91 persen dan retail mulai bangkit dengan okupansi 86 persen meski suplai baru minim.

Jakarta – Konsultan properti CBRE Indonesia menilai pasar properti Jakarta diprediksi akan mengalami periode pertumbuhan stabil, yang didorong oleh fondasi ekonomi yang tangguh dan pergeseran prioritas penyewa.

Head of Research and Consultancy CBRE Indonesia, Anton Sitorus, mengatakan Indonesia telah mempertahankan laju pertumbuhan yang mengesankan, dengan rata-rata sekitar 5 persen per tahun dalam lima tahun terakhir.

Ia menyoroti, momentum tersebut diperkirakan akan berlanjut, dengan proyeksi pertumbuhan yang sama hingga 2027. Target ambisius pemerintah ekonomi sebesar 6 hingga 8 persen pada 2029 mencerminkan keyakinan terhadap prospek jangka panjang negara ini.

“Stabilitas ini lebih dari sekadar angka, ini adalah landasan di mana keputusan properti dibuat, mulai dari ekspansi multinasional hingga investasi lokal,” ucap Anton dalam paparannya di Jakarta, 18 November 2025.

Baca juga: Kinerja Moncer, Patra Jasa Dorong Investasi Ekonomi di Sektor Properti

Anton menjelaskan, dari sisi perkembangan properti segmen perkantoran mengalami perbedaan proyeksi ke depannya, dari sisi Central Business District (CBD) dan non CBD. Untuk segmen CBD hingga saat ini masih belum terlihat adanya pasokan atau supply baru, namun hingga kuartal III 2025 penyerapan atau take-up mencapai 40 ribuan.

“Sehingga kalau kita perkirakan sampai dengan akhir tahun nanti nih. Sampai Desember, net take up itu kurang lebih kalau menurut proyeksi kita akan sama dengan tahun lalu. Artinya udah dua tahun terakhir ini nggak ada supply ini di market,” imbuhnya.

Secara keseluruhan, suplai untuk Jakarta CBD Office saat ini mencapai 7,1 juta square meter (sqm), dengan penyerapan (take-up) hingga September 2025 mencapai 38 ribu sqm, sementara tingkat keterisian (occupancy) sebanyak 75 persen.

Sedangkan, suplai mendatang diperkirakan mencapai 188 ribu sqm, rata-rata harga sewa Rp170 ribu per sqm per bulan, dan total luas yang belum terisi mencapai 1,7 juta sqm.

Lebih lanjut, untuk Jakarta non CBD Office tercatat masih ada stock 3,4 juta sqm, dengan jumlah yang telah terserap pada periode yang sama 29.700 sqm dan occupancy 73 persen. Sedangkan suplai mendatang diperkirakan mencapai 122 ribu, dengan harga rental Rp124 ribu psm pm, dan total yang belum terisi 900 ribu sqm.

Sementara itu, untuk segmen industrial terkait dengan pergundangan (warehouse) atau logistik masih mengalami tren pertumbuhan positif, dengan suplai mencapai 15.400 hektare, tetapi penyerapannya baru 89 hektare hingga September 2025.

Lalu, tingkat keterisian segmen industrial mencapai 91 persen, di mana suplai mendatang sebesar 1.600 hektare, dengan harga sewa Rp2,5 juta per meter persegi, dan total lahan yang belum terisi sekitar 1.400 hektare.

Baca juga: Pemerintah, Pengembang, dan Industri Sepakat Perkuat Sinergi Investasi dan Properti

Sementara untuk segmen retail atau pusat perbelanjaan, mulai mengalami pemulihan tingkat keterisian sekitar 86 persen hingga saat ini, setelah mengalami permintaan yang sangat minim karena dampak Covid-19.

“Dari akhir tahun lalu sampai sekarang, Ini mulai ada kenaikan, Jadi mal okupansinya udah mulai sedikit naik, Di kisaran sekitar 86 persen. Di mana, nggak ada pasokan nih, Jadi sekarang tahun ini, Kalau kita lihat belum ada yang masuk, tapi memang di kuartal terakhir ini. Di akhir tahun ini, ada beberapa yang masuk,” ujar Anton.

Sebagai informasi, untuk suplai pusat perbelanjaan di Jakarta saat ini mencapai 3,4 juta sqm dan telah terserap hingga September 2025 sebanyak 18.500 sqm.

Sedangkan untuk suplai mendatang akan bertambah 154 ribu sqm, dengan rata-rata penyewaan Rp320 ribu per meter persegi per bulan, serta total yang masih belum terisi sekitar 500 ribu sqm. (*)

Editor: Galih Pratama

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

KCIC Pastikan Whoosh Aman di Tengah Cuaca Ekstrem, Sensor Berjalan Optimal

Poin Penting Kereta Whoosh sempat berhenti akibat seng di jalur, namun sensor mendeteksi dini dan… Read More

9 hours ago

RI-Jepang Teken MoU Rp384 T, DPR Soroti Realisasi di Lapangan

Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More

10 hours ago

Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, RI Desak Investigasi dan Evaluasi UNIFIL

Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More

10 hours ago

Saham Bank INFOBANK15 Bergerak Variatif di Akhir Pekan, Ini Rinciannya

Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More

16 hours ago

BEI Rangkum 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More

17 hours ago

IHSG Sepekan Melemah 0,99 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp12.305 Triliun

Poin Penting IHSG melemah 0,99% dalam sepekan ke level 7.026,78, seiring mayoritas indikator pasar saham… Read More

17 hours ago