Agenda Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026, Kamis, 5 Februari 2026. (Foto: Erman Subekti)
Poin Penting
Jakarta – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat turun ke level 7.800-an pekan lalu mendapat perhatian Presiden Prabowo Subianto. Presiden meminta agar pasar modal Indonesia segera direformasi guna meningkatkan kepercayaan investor.
Permintaan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam agenda Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026, Kamis, 5 Februari 2026.
Airlangga menyampaikan, langkah pertama yang diminta Presiden Prabowo adalah demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Kebijakan tersebut akan disiapkan melalui peraturan pemerintah.
“Dan ini akan disiapkan dengan peraturan pemerintah. Demutualisasi bursa ini bisa (dengan) 2 tahap. Satu dengan private placement, dan yang kedua bisa dengan IPO. Nanti itu bisa secara teknis dibahas,” ujarnya.
Baca juga: Ini Plus Minus Implementasi Demutualisasi BEI
Ia menilai, demutualisasi menjadi langkah penting untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas pasar modal, serta memisahkan kepentingan bursa dengan para pelaku pasar.
Selain demutualisasi, Presiden juga menyoroti kebijakan free float atau porsi saham yang beredar di publik. Airlangga menyebut, Prabowo meminta agar ketentuan free float dinaikkan menjadi 15 persen.
“Kita lihat banyak perusahaan yang saham (free float)-nya masih 7,5 sampai 10, atau di bawah 15 persen. Tentu ini diberikan waktu untuk mereka bisa menyesuaikan. Tetapi mereka harus (jelas) mulai kapan,” tegasnya.
Baca juga: BEI Prioritaskan 49 Emiten Besar Penuhi Aturan Free Float 15 Persen
Arahan berikutnya adalah peningkatan batas investasi institusi milik pemerintah, seperti dana pensiun dan BPJS. Batas investasi yang sebelumnya maksimal 10 persen akan dinaikkan menjadi 20 persen.
Airlangga menjelaskan, investasi tersebut hanya diperbolehkan pada emiten berkualitas, seperti perusahaan yang masuk indeks LQ45.
“Kemudian, penguatan transparansi penting. (Mereka yang punya) lebih dari 1 persen itu kepemilikan saham perlu untuk di-publish. Dengan demikian, transparansi ini bisa mendorong juga supaya tidak terjadi ‘pengolahan’ (penggorengan) saham,” lanjutnya.
Sebagai penutup, Airlangga menegaskan bahwa pasar modal merupakan “jendela keuangan” Indonesia. Stabilitas ekonomi makro, menurutnya, harus diimbangi dengan integritas dan tata kelola pasar modal yang kuat. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) bersinergi dalam diskusi bertema "Peran Masjid Istiqlal di Era Transformasi Digital… Read More
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar pertemuan tahunan industri jasa keuangan yang digelar rutin untuk menyampaikan… Read More
Dengan adanya MyPanin, menegaskan komitmen PaninBank dalam menghadirkan aplikasi layanan perbankan digital yang komprehensif, nyaman,… Read More
Poin Penting Sempat terkoreksi 5,15 persen ke Rp1.115 saat IHSG anjlok akibat sentimen MSCI, saham… Read More
Melalui kehadiran booth ini, BCA Syariah memperkenalkan berbagai produk dan layanan perbankan syariah, yaitu mobile… Read More
Oleh: Eko B. Supriyanto, Chairman Infobank Media Group PERTUMBUHAN ekonomi kuartal IV tahun 2025 sebesar… Read More