Pegerakan pasar saham. (Foto: istimewa)
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 139,15 poin atau turun 1,96 persen ke level 6.968,64 pada perdagangan kemarin (19/6). Ini menjadi koreksi harian terdalam selama lima bulan terakhir dan kembali menembus di bawah level psikologis 7.000, serta support teknikal MA200.
Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menyebut, aksi jual besar-besaran yang melanda pasar dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dan kekhawatiran domestik yang saling menumpuk.
“Dari sisi global, pasar diguncang oleh eskalasi konflik Iran–Israel, menyusul laporan serangan rudal Iran ke rumah sakit militer di Israel,” ucap Hendra dalam keterangannya dikutip, 20 Juni 2025.
Baca juga: Saham Jaya Agra Wattie (JAWA) Diuntungkan Tren Harga CPO, Simak Proyeksinya
Dari dalam negeri, kata Hendra, pasar dibuat semakin resah setelah data pendapatan negara per Mei 2025 hanya mencapai 33,1 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), capaian ini lebih buruk dibandingkan periode pandemi.
“Minimnya kejelasan dan transparansi arah fiskal membuat pelaku pasar mengantisipasi risiko krisis fiskal terselubung, mendorong aksi jual agresif pada sektor-sektor defensif seperti perbankan dan telekomunikasi,” imbuhnya.
Sejurus dengan itu, IHSG mendapatakan tekanan. Utamanya dari saham-saham blue chip, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang melemah 3,55 persen dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 1,40 persen. Ini mencerminkan dominasi aksi jual asing dan pergeseran sektor dari defensif ke komoditas.
Diketahui, sektor keuangan pada perdagangan kemarin merosot sebanyak 1,61 persen, dengan saham-saham perbankan yang juga mencatat penurunan antara lain:
Hendra sebelumnya telah mengimbau bahwa saham-saham big cap perbankan dapat mengalami tekanan sementara akibat sentimen negatif terhadap rupiah dan ekspektasi yield.
Baca juga: Mirae Asset Rekomendasikan Saham Emiten Emas Makin Berkilau, Ini Alasannya
Kata Hendra, dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, investor disarankan untuk selektif dan fokus pada sektor-sektor yang memiliki katalis positif struktural.
Menurur Henda, saham sektor energi, logam dasar, dan emas diperkirakan tetap menjadi sweet spot dalam peta rotasi sektor jangka menengah.
“Terutama jika ketegangan geopolitik terus berlangsung dan arah kebijakan fiskal masih belum memberikan kepastian, sektor tersebut tetap menjadi sweet spot,” ungkapnya. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting KB Bank balik laba Rp66,59 miliar di 2025 dari rugi Rp6,33 triliun pada… Read More
Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More
Poin Penting OJK rampungkan empat reformasi pasar modal untuk tingkatkan transparansi. OJK akan temui MSCI… Read More
Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More
Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More
Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More