Market Update

Pasar Lakukan Detox, Waktunya Serok Saham Fundamental

Poin Penting

  • Tekanan pasar terkonsentrasi pada saham terdampak kebijakan MSCI dan percepatan reformasi OJK, sementara saham berfundamental kuat mulai diakumulasi investor.
  • Praktisi pasar menilai koreksi saat ini sebagai fase market detox yang justru membuka peluang akumulasi bertahap pada saham dengan fundamental solid.
  • OJK dan SRO menyiapkan delapan rencana aksi dalam empat klaster utama—free float, transparansi, tata kelola & enforcement, serta sinergitas.

Jakarta – Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada hari pertama perdagangan Februari 2026, pergerakan pasar menunjukkan sinyal menarik. Sejumlah saham berfundamental kuat mulai bergerak menguat dan terpantau diakumulasi pelaku pasar, di tengah tekanan pada saham-saham tertentu.

Praktisi Pasar Modal Hans Kwee menilai pelemahan IHSG saat ini bersifat selektif dan terkonsentrasi pada saham-saham yang terdampak kebijakan MSCI serta langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam mempercepat reformasi integritas pasar modal.

“Kelihatannya pelaku pasar ritel sedang melakukan market detox. Ada aksi jual untuk mengantisipasi risiko pada saham-saham yang terimbas kebijakan MSCI dan perbaikan cepat yang akan dilakukan OJK bersama SRO,” ujar Hans dikutip, Senin, 2 Februari 2026.

Namun demikian, ia mengingatkan agar investor ritel tidak larut dalam kepanikan. Menurutnya, fase koreksi justru membuka peluang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham dengan fundamental yang solid.

“Kalau fundamentalnya bagus, ini justru momen yang tepat untuk serok saham secara bertahap,” tegasnya.

Baca juga: Setelah MSCI, Pergerakan IHSG Pekan Ini Bakal Dipengaruhi Sentimen Berikut

Seperti diketahui, OJK bersama pemerintah dan para pemangku kepentingan telah menegaskan komitmen untuk mempercepat reformasi pasar modal Indonesia secara menyeluruh. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan kredibilitas, transparansi, dan daya tarik pasar modal agar semakin investable serta mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam kerangka tersebut, OJK dan Self-Regulatory Organization (SRO) menyiapkan delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal. Delapan rencana aksi ini dikelompokkan ke dalam empat klaster utama, yakni kebijakan free float, transparansi, tata kelola dan enforcement, serta sinergitas.

Pada klaster kebijakan free float, rencana aksi pertama adalah peningkatan batas minimum free float emiten menjadi 15 persen dari sebelumnya 7,5 persen, yang akan diterapkan secara bertahap. Untuk emiten baru yang melantai melalui IPO, ketentuan 15 persen dapat diberlakukan langsung, sementara emiten lama akan diberikan masa transisi.

Klaster transparansi menitikberatkan pada penguatan keterbukaan ultimate beneficial owner (UBO). OJK akan mendorong transparansi UBO dan afiliasi pemegang saham melalui pengaturan yang tegas dan sejalan dengan best practices internasional guna meningkatkan kredibilitas pasar.

Selanjutnya, pada klaster tata kelola dan enforcement, OJK akan memperkuat kualitas data kepemilikan saham agar lebih granular dan andal. SRO akan diminta melakukan penguatan data, dengan klasifikasi sub-tipe investor mengacu pada praktik global. Data tersebut nantinya disampaikan KSEI kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk dipublikasikan melalui situs BEI.

Dalam aspek tata kelola, OJK juga menyiapkan tiga rencana aksi lanjutan, mulai dari demutualisasi BEI sesuai amanat undang-undang, penguatan penegakan hukum dan sanksi atas pelanggaran pasar modal, hingga peningkatan tata kelola emiten melalui kewajiban pendidikan berkelanjutan bagi direksi, komisaris, dan komite audit, serta sertifikasi bagi penyusun laporan keuangan.

Baca juga: Pesan Khusus Prabowo ke Investor Pasar Modal usai IHSG Babak Belur

Adapun pada klaster sinergitas, OJK akan memperdalam pasar secara terintegrasi melalui sinergi dengan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan pemangku kepentingan lainnya. Selain itu, kolaborasi dengan seluruh stakeholder pasar modal akan terus diperkuat guna memastikan reformasi berjalan berkesinambungan.

Dengan agenda reformasi yang semakin jelas, pelaku pasar diharapkan dapat melihat pelemahan jangka pendek sebagai proses penyehatan. Sejalan dengan itu, strategi akumulasi pada saham-saham berfundamental kuat dinilai menjadi pilihan rasional di tengah proses market detox yang tengah berlangsung. (*)

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Gebyar Ramadan Keuangan (GERAK) Syariah 2026 menghimpun dana sebesar Rp 6,83 triliun

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pelaksanaan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026 berhasil menghimpun… Read More

4 hours ago

Catat! Ini Jadwal Pembagian Dividen WOM Finance

Poin Penting WOM Finance menetapkan pembagian dividen tunai maksimal 30 persen dari laba bersih 2025,… Read More

9 hours ago

Free Float 15 Persen Mulai Berlaku, Banyak Emiten yang Terancam Delisting?

Poin Penting BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia resmi mengumumkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi… Read More

9 hours ago

DPR Minta Bank Sumut Tingkatkan Penyaluran Kredit UMKM

Poin Penting DPR menyoroti perlunya kebijakan kredit yang lebih berpihak pada masyarakat, terutama pelaku UMKM… Read More

11 hours ago

Ketidakpastian Hukum di Sektor Keuangan: Ketika Risiko Dikriminalisasi dan Harga Dianggap Kartel

Oleh Anto Prabowo, Dosen FEB UNS Solo DI tengah dinamika kebijakan ekonomi nasional, munculnya dua… Read More

21 hours ago

Cetak SDM Unggul, BSN Gandeng Universitas Terbuka

Dalam program tersebut, BSN memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi pegawai aktif yang memenuhi kriteria, baik… Read More

22 hours ago