Arief Kusuma, AI enthusiast dalam acara Executive Cybersecurity Roundtable bertema “Defend, Adapt, Thrive: Cyber Resilience in the Age of Intelligent Threats” yang diselenggarakan oleh PT SLK Digital Innovation di Jakarta, Selasa (4/11). (Foto: Steven Wijaja)
Poin Penting
Jakarta – Tantangan keamanan digital (digital security) dan keamanan siber (cybersecurity) kini menjadi perhatian utama di sektor perbankan, fintech, dan industri jasa keuangan lainnya. Gelombang digitalisasi yang masif turut memunculkan berbagai ancaman baru, mulai dari serangan siber (cyber attack), insiden penipuan (fraud), hingga penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Arief Kusuma, AI enthusiast yang sekaligus menjadi moderator dalam acara Executive Cybersecurity Roundtable bertema “Defend, Adapt, Thrive: Cyber Resilience in the Age of Intelligent Threats” yang diselenggarakan oleh PT SLK Digital Innovation di Jakarta, Selasa (4/11), menegaskan bahwa keamanan siber adalah isu kronis yang membutuhkan dukungan kolaboratif lintas sektor.
Sebagai perwakilan penggiat digitalisasi UMKM, AI, dan asosiasi Korika, Arief menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas.
“Dialog lintas sektor ini sangat urgen. Saat ini, roadmap AI nasional yang sedang disusun Pokja Korika menanti pengesahan melalui Perpres. Konsolidasi dan tata kelola yang baik akan mengurangi risiko serangan siber dan mendorong praktik AI yang bertanggung jawab di industri,” ujar Arief dalam sambutannya.
Baca juga: Gap SDM Cybersecurity Terbesar di Asia Pasifik, Praktisi IT Beberkan Penyebabnya
Acara tersebut dihadiri lebih dari 25 peserta dari berbagai sektor kunci seperti perbankan, energi, pertambangan, pembayaran digital, manajemen aset, investasi, serta perwakilan dari Kadin dan berbagai asosiasi industri.
Kehadiran para panelis seperti Eryk Budi Pratama (Cybersecurity, Privacy, and AI Governance Professional) dan Andang Nugroho (Task Force Lead, Cybersecurity and Digital Sovereignty Mastel Digital Enabler) turut memberikan wawasan mendalam mengenai strategi dan inovasi keamanan siber di Indonesia.
Arief menegaskan bahwa ekosistem digital Indonesia membutuhkan orkestrasi dan kolaborasi yang intensif.
“Korika berperan sebagai katalis, menghubungkan pemerintah, industri dan komunitas, agar tata kelola dan implementasi AI berjalan optimal,” jelasnya.
Baca juga: Cegah Serangan Siber Berbasis AI, Praktisi IT Ingatkan Pemerintah Lakukan Ini
Sementara itu, CEO SLK Digital Innovation, Edmo, menyampaikan bahwa sebagai perusahaan hasil kolaborasi Indonesia–Malaysia, SLK Digital Innovation berkomitmen menghadirkan praktik terbaik sekaligus memfasilitasi dialog strategis untuk memperkuat ketahanan digital nasional
Selain itu, forum ini juga menjadi wadah identifikasi isu digital security dan cyber security melalui pengumpulan problem statement dari para peserta.
“Terima kasih kepada Pak Yusuf David Ramli dan Pak Edmund Low sebagai koordinator organizing committee dan seluruh delegasi SLK yang telah mendukung terselenggaranya acara ini,” pungkasnya. (*) Steven Widjaja
Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More
Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More
Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More
By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More
Poin Penting Danantara menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal yang digulirkan OJK, termasuk kebijakan… Read More