Ilustrasi: Pasar modal Indonesia. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Panin Sekuritas menilai bahwa turunnya pandangan prospek dari peringkat Moody’s akan memiliki dampak yang relatif terbatas dalam jangka pendek, namun tetap akan meningkatkan volatilitas pada pasar pendapatan tetap.
“Kami juga mencermati respons dari Moody’s tersebut wajar, mengingat kondisi fiskal Indonesia yang memiliki berbagai tantangan,” tulis analis Panin Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, 6 Februari 2026.
Panin Sekuritas mencatat ada tiga poin yang memicu Moody’s menurunkan peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif. Salah satunya adalah defisit fiskal 2025 yang tercatat sebesar 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sangat tipis dari batas 3 persen.
Baca juga: Moody’s Turunkan Outlook RI, Purbaya: Hanya Jangka Pendek
Kemudian, kinerja penerimaan pajak yang masih relatif rendah. Ini tercermin dari tax ratio 2025 tercatat sebesar 9,31 persen atau berada di bawah target pemerintah sebesar 10,22 persen dari PDB.
Terakhir, debt-to-service ratio APBN yang masih tercatat di kisaran 40 persen, hal ini mencerminkan pendapatan negara yang signifikan hanya untuk membayar beban utang fiskal.
Ke depannya, perlu dicermati terkait bagaimana penguatan tata kelola kebijakan publik dan kinerja pendapatan negara sepanjang 2026 ini dengan tetap membuka kemungkinan adanya penurunan rating dan berpotensi menciptakan arus modal keluar yang besar.
Adapun, lembaga pemeringkat kredit internasional Moody’s mempertahankan rating Baa2 namun menurunkan outlooknya dari stabil menjadi negatif untuk Indonesia.
Hal itu dipicu oleh penurunan kepastian dalam pembentukan kebijakan, yang berisiko mengganggu efektivitas kebijakan dan menunjukkan melemahnya tata kelola.
Namun demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat Baa2 untuk utang jangka panjang Indonesia dalam mata uang lokal dan asing.
Baca juga: Outlook Negatif dari Moody’s Jadi Alarm Keras untuk Kebijakan Prabowo
Moody’s juga menyatakan bahwa penurunan peringkat potensial dapat terjadi akibat salah satu dari faktor berikut, kebijakan fiskal yang lebih ekspansif tanpa disertai reformasi pendapatan negara.
Lalu, penurunan signifikan dalam posisi eksternal, seperti akibat depresiasi mata uang yang berkepanjangan atau arus keluar modal.
Selanjutnya, melemahnya kesehatan keuangan atau pengembalian investasi perusahaan negara terkait dengan tata kelola yang tidak memadai dari Daya Anagata Nusantara (Danantara). (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting BRI Life dan RS Awal Bros Group meresmikan fasilitas rawat inap premium The… Read More
Poin Penting Jamkrindo membukukan laba sebelum pajak Rp1,28 triliun dan laba bersih Rp1,05 triliun di… Read More
Poin Penting Status Indonesia tetap di kategori Secondary Emerging Market versi FTSE Russell dan tidak… Read More
Poin Penting Ancaman siber di Indonesia meningkat tajam pada 2025, dengan jutaan serangan berhasil diblokir… Read More
Poin Penting Rupiah dibuka melemah ke Rp17.035 per dolar AS, tertekan penguatan dolar AS. Sentimen… Read More
Poin Penting IHSG dibuka melemah 0,89 persen ke level 7.214,17 pada awal perdagangan (9/4), dari… Read More