News Update

Optimisme Pasar Akan Rupiah dan IHSG Diuji Pekan Ini

Jakarta–Research Analyst Forextime, Lukman Otunuga mengungkapkan pekan ini merupakan pekan penuh agenda yang dapat mempengaruhi optimisme pasar terhadap laju Rupiah dan IHSG.

Seperti diketahui, Rupiah melemah terhadap Dolar di kisaran Rp13.070 pada perdagangan hari Senin kemarin karena peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan data perdagangan Indonesia yang kurang menggembirakan mengganggu selera investor.

Di sisi lain ekspor Indonesia merosot di bulan September karena lemahnya harga komoditas menekan pemasukan ekspor dan pendapatan pemerintah.

Terlepas dari kekhawatiran jangka pendek yang diakibatkan oleh rilis data terkini, prospek terhadap Indonesia secara umum masih tetap menjanjikan karena data ekonomi utama masih menunjukkan stabilitas ekonomi.

Selain itu, sejumlah langkah reformasi yang digencarkan pemerintah pun berhasil menarik investor asing.

Membaiknya optimisme dapat menjadi pendorong bagi Indeks Harga Saham Gabungan dan juga Rupiah di jangka waktu menengah.

“Pasar finansial mungkin akan terekspos dengan level volatilitas yang tinggi pada perdagangan pekan ini apabila rilis sejumlah data ekonomi penting dan pidato beberapa bank sentral yang dijadwalkan pekan ini memicu kegelisahan investor,” kata Lukman, Selasa, 18 Oktober 2016.

Lukman sendiri beranggapan dampak dari komentar Janet Yellen Jumat lalu sangat memengaruhi pasar finansial dan menekan saham Asia karena para pelaku pasar meninjau kembali kemungkinan peningkatan suku bunga Fed tahun ini.

Pasar Eropa juga sempat terkena imbas gelombang negatif di Asia dengan FTSE100 menderita penurunan -0.87%.

Walaupun Wall Street menguat pekan lalu karena pendapatan perusahaan yang mengesankan, pasar saham rentan mengalami penurunan karena kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan global, isu Brexit, dan ketidakpastian menjelang pemilihan presiden AS mengganggu selera risiko.

Seperti diketahui, Janet Yellen Jumat kemarin dengan komentarnya bahwa Fed mungkin perlu menjalankan ekonomi “bertekanan tinggi” demi mengatasi kerusakan yang disebabkan oleh resesi 2008 lalu.

Pasar menafsirkan komentar beliau sebagai agak dovish dan berwacana bahwa Fed mungkin akan mengadopsi kebijakan akomodatif untuk periode yang lebih lama sehingga dolar pun agak melemah. Pidato Yellen tidak menjelaskan tentang jadwal peningkatan suku bunga AS tahun ini sehingga investor terpaksa kembali berfokus pada data penjualan ritel September yang kuat sebesar 0,6%. (*) Dwitya Putra

 

 

Editor: Paulus Yoga

Paulus Yoga

Recent Posts

Prudential Indonesia Luncurkan PRUMapan, Sasar Kebutuhan Proteksi Generasi Sandwich

Poin Penting Prudential Indonesia meluncurkan PRUMapan, asuransi jiwa tradisional yang menyasar milenial dan Gen Z,… Read More

5 hours ago

Dana Abadi LPDP Tembus Rp180,8 Triliun, Intip Rincian Alokasi dan Penggunaannya

Poin Penting Dana abadi LPDP mencapai Rp180,8 triliun, dengan alokasi terbesar untuk pendidikan Rp149,8 triliun,… Read More

5 hours ago

MTF Telusuri Dugaan Tindak Pidana yang Mengatasnamakan Perusahaan

Poin Penting PT Mandiri Tunas Finance (MTF) melakukan penelusuran menyeluruh atas dugaan tindak pidana yang… Read More

6 hours ago

ISEI Dorong Reformulasi Kebijakan UMKM Lewat Industry Matching di Bogor

Poin Penting ISEI dorong kebijakan berbasis praktik lapangan melalui ISEI Industry Matching bersama YDBA untuk… Read More

6 hours ago

Bank Mandiri Siapkan Rp44 Triliun Uang Tunai untuk Kebutuhan Ramadan-Lebaran 2026

Poin Penting Bank Mandiri menyiapkan Rp44 triliun uang tunai untuk ATM/CRM selama 24 Februari-25 Maret… Read More

7 hours ago

LPDP Minta Maaf atas Polemik Alumni Berinisial DS

Poin Penting LPDP menyampaikan permintaan maaf atas polemik yang ditimbulkan alumni berinisial DS dan menilai… Read More

8 hours ago