Inilah Skenario Loan at Risk (LAR) yang Akan Jatuh Jadi NPL

Inilah Skenario Loan at Risk (LAR) yang Akan Jatuh Jadi NPL

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank

BANK-BANK masih takut memberikan kredit. Pertum­buhan kredit akhir Februari 2021 melanjutkan pertumbuhan negatif sejak Juni 2020. Padahal, banyak “doping” sudah diberikan oleh Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Program restrukturisasi kredit, yang harusnya jatuh tempo Maret 2021, diperpanjang menjadi Maret 2022. Masa setahun ke depan, masa yang menegangkan.

Benarkah itu karena bank-bank menderita “koleste­rol” tinggi berupa loan at risk (LAR)? Jumlah LAR perbankan mencapai kisaran Rp1.200 triliun. Angka LAR itu meliputi LAR sebelum pandemi COVID-19 dan setelah pandemi COVID-19. Jumlah LAR lebih banyak karena krisis akibat pandemi COVID-19 ini.

Porsi LAR sudah mencapai kisaran 25% dari total kredit perbankan. Jadi, bank-bank sejatinya sedang menderita “kolesterol” tinggi. Para bankirnya takut jika sewaktu-waktu LAR ini akan menyumbat “pembuluh” kredit – menjadi non performing loan (NPL) atawa stroke.

Jadi, jawaban paling pasti kenapa bank-bank tidak “kencing” kredit, karena memang bank-bank sedang mengidap “kolesterol” tinggi. Persepsi risiko terhadap sektor riil masih besar, sehingga antara memberikan kredit atau menahan kredit masih sama kuatnya. Dan, jalan yang dipilih adalah menahan nafsu kredit. Menurut data, kredit perbankan terkontraksi 2,15%.

Para bankir waswas, LAR yang tinggi dan belum pernah ada ini bisa menjadi NPL. Hanya saja, berapa yang akan menjadi NPL. Tak heran para bankir pun membuat “celengan semar” (cadangan) sebagai antisipasi kalau-kalau NPL tadi benar-benar menjadi macet. Paling tidak bank-bank sudah mempersiapkan kuda-kuda. Ya… kalau tidak benar-benar ambruk, setidaknya “celengan semar” tadi bisa menjadi “durian runtuh” bagi pendapatan bank.

Tidak pernah ada yang tahu, berapa besar LAR yang akan berbuah menjadi NPL. Berdasarkan wawancara sejumlah bankir papan atas dan tengah, Infobank Institute mengeluarkan tiga skenario. Skenario rendah (optimistis) menyebut angka 7%-10%. Lalu, skenario sedang (moderat) menyebut angka 11%-13% dan skenario tinggi (pesimistis) menyebut 14%-16%.

Jika diperhatikan, daya tahan perbankan dalam hal ini posisi capital adequacy ratio (CAR) berada di angka 23%-24%; posisi NPL juga masih tergolong rendah meski meningkat menjadi 3,21% dari sebelumnya 3,06%. Posisi likuiditas pun masih banjir dengan loan to deposit ratio (LDR) berkisar 81%-83%. Jadi, cukup likuid.

Dengan memakai skenario rendah dengan penuru­nan LAR sebesar 7%-10%, kondisi yang ada masih tidak cukup kuat untuk menggoyang bank-bank. Bahkan, jika memakai skenario paling pahit pun, yaitu jika LAR turun pada kisaran 14%-16%, posisi bank-bank secara nasional juga masih cukup kuat – posisi NPL akan ada penambahan sekitar Rp170 triliun-Rp192 triliun. Tidak sampai akan membuat NPL terjerumus pada angka di atas 5%. Dan, kuda-kuda modal pun ma­sih cukup kuat dengan perkiraan CAR di angka 20%-21%.

Nah, jika melihat skenario tersebut, harusnya bank tidak menjadikan risiko kredit sebagai sebuah alasan untuk tidak meneteskan kredit. Namun, memang tidak ada yang tahu berapa besar pemburukan kredit ini. Jangan-jangan skenario paling besar dari Infobank Institute (14%-16%) ini tergolong rendah.

Di lain sisi, jika melihat korporasi-korporasi juga masih menggaet dana lewat obligasi dan surat utang, bisa jadi permintaan kredit masih ada. Hanya saja, meli­hat bank-bank pada mengerem pakem kredit, peru­sahaan-perusahaan itu mencari di pasar surat utang di luar bank.

Jadi, bank-bank semua akan melewati gelombang kedua kredit macet (Maret 2021) masih dengan gagah, dan bank-bank masih akan tetap membagikan dividen. Pada gelombang ketiga kredit macet (Maret 2022) pun, bank-bank masih cukup kuat.

Kini tinggal siapa yang berani lebih dulu mengambil momentum untuk masuk pasar dengan sedikit kebera­nian dalam mengucurkan kredit. Sebab, ekonomi global pun secara perlahan mulai “membaik”.

Apalagi dengan perkiraan LAR yang akan menjadi NPL tidak seperti yang ditakutkan oleh sebagian analis, juga para bankir konservatif, sudah seharusnya bank-bank dapat melewati masa pandemi COVID-19 ini dengan mulai kencing kredit. Hantu risiko sudah bisa dikalkulasi.

Saat ini yang diperlukan adalah “viagra” untuk memulihkan disfungsi intermediasi perbankan. Dan, viagra itu tak lain adalah sedikit keberanian, karena risiko bisa dikalkulasi. Jangan sampai kehilangan momentum yang titik kritisnya sudah lewat di triwulan satu tahun ini. Jadi, ketakutan akan “kolesterol” tinggi sudah bisa dikendalikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.