Poin Penting
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat portofolio penyaluran kredit perbankan Tanah Air masih di dominasi oleh segmen kredit korporasi pada periode 2020 hingga Juni 2025.
Kepala Direktorat Pengembangan Perbankan OJK, Mohamad Miftah mengatakan hingga Juni 2025, segmen kredit korporasi mendominasi 54,64 persen dari total kredit perbankan Indonesia.
Kredit segmen korporasi tersebut tumbuh 9,75 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan total pertumbuhan kredit nasional yang sebesar 7,92 persen yoy.
“Untuk posisi Juni, segmen korporasi itu meliputi 54,6 persen dari total kredit di Indonesia dengan tingkat pertumbuhan 9,75 persen, yang mana lebih besar dari pada pertumbuhan total kredit yang besarnya 7,92 persen,” kata Miftah dalam acara Infobank Banking Connect yang digelar Infobank Digital bersama dengan FIS System dan Inti Corpora Teknologi, di Jakarta , Rabu, 8 Oktober 2025.
Baca juga: DPR Minta Perbankan Lebih Berpihak pada Masyarakat dan Dorong Kredit UMKM
Berdasarkan paparannya, porsi kredit korporasi didominasi oleh Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV sebesar 53,84 persen. Selanjutnya, KBMI III 36,55 persen, KBMI II 12,71 persen, dan KBMI I 6,90 persen.
Sementara, jika berdasarkan kepemilikan bank, bank swasta mendominasi penyaluran kredit korporasi sebesar 51,33 persen. Kemudian disusul oleh Perseroan 41,42 persen, Kantor Cabang Bank Luar Negeri (KCBLN) 4,90 persen, dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) 2,35 persen.
“Bank KBMI IV dan juga bank dengan kepemilikan swasta yang mendominasi kelompok bank dalam penyaluran kredit korporasi,” jelasnya.
Baca juga: Skor Kredit Buruk Bisa Hambat Akses Keuangan, Ini Penjelasannya
Di sisi lain, Miftah mewanti-wanti bank agar tetap menerapkan manajemen risiko kredit. Sebab, pemberian kredit merupakan kegiatan utama bank yang mengandung risiko yang dapat berpengaruh pada kesehatan dan kelangsungan usaha bank, sehingga dalam pelaksanaannya harus didasarkan rencana bisnis dan asas perkreditan yang sehat.
“Karena itu diperlukan penerapan tata kelola yang baik (good governance) serta fungsi identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko bank secara komprehensif,” pungkasnya. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting OJK mendorong keterbukaan informasi pasar modal melalui sistem pelaporan elektronik AKSes KSEI dan… Read More
Poin Penting Penjualan emas BSI tembus 2,18 ton hingga Desember 2025, dengan jumlah nasabah bullion… Read More
Poin Penting Transaksi Syariah Card Bank Mega Syariah melonjak 48% pada Desember 2025 dibandingkan rata-rata… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tengah membahas penambahan satu lapisan cukai rokok untuk memberi… Read More
Poin Penting Permata Bank mulai mengkaji pengembangan produk BNPL/paylater, seiring kebijakan terbaru regulator, namun belum… Read More
Poin Penting OJK menyiapkan aturan pengawasan finfluencer yang ditargetkan rampung pertengahan 2026, dengan fokus pada… Read More