Direktur Pengawasan Asuransi Umum dan Reasuransi OJK Munawar Kasan
Poin Penting
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan sejumlah faktor utama yang menyebabkan kesenjangan perlindungan (protection gap) asuransi bencana di Indonesia masih sangat lebar.
Salah satu penyebab utama adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana, yang berdampak pada minimnya kepemilikan asuransi bencana di Tanah Air.
Direktur Pengawasan Asuransi Umum dan Reasuransi OJK, Munawar Kasan mengatakan, selain rendahnya kesadaran risiko, terdapat sejumlah faktor lain yang turut memperlebar protection gap asuransi bencana.
Ia merinci, keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai mekanisme transfer risiko, persoalan keterjangkauan premi, hingga rendahnya tingkat kepercayaan terhadap penyedia asuransi masih menjadi tantangan utama.
“Faktor terakhir adalah kepercayaan budaya yang memengaruhi sikap terhadap perlindungan risiko. Jadi, masyarakat kita itu masih menganggap bahwa bencana itu sebagai takdir. Kalau sudah takdir ya sudah diterima,” bebernya.
Baca juga: Kerawanan Tinggi, Tapi Perlindungan Asuransi Bencana di Indonesia Masih Minim
Munawar menegaskan, penanganan protection gap asuransi bencana membutuhkan inisiatif bersama antara pemerintah, industri asuransi, dan seluruh pemangku kepentingan.
Dari sisi pemerintah, ia menilai implementasi asuransi bencana wajib sudah saatnya direalisasikan. Menurutnya, dasar hukum penerapan asuransi wajib telah tersedia dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
Baca juga: Tempat Usaha-Aset Dijarah saat Bencana, Apakah Bisa Klaim Asuransi?
Dalam regulasi tersebut, asuransi wajib tidak hanya mencakup asuransi pihak ketiga, tetapi juga membuka ruang bagi asuransi wajib untuk risiko bencana.
“Asuransi wajib ini bukan hanya untuk kecelakaan kendaraan bermotor, tetapi juga mencakup asuransi bencana ini,” jelasnya.
Ia melanjutkan, dari sisi industri, OJK mendorong perusahaan asuransi untuk mengembangkan produk yang lebih sederhana dan terjangkau.
Salah satu inovasi yang dinilai potensial adalah asuransi parametrik, yang memungkinkan pembayaran klaim berbasis parameter kejadian bencana tertentu tanpa proses klaim yang kompleks.
Baca juga: Klaim Asuransi Bencana Sumatra Capai Rp567 Miliar, AAUI Soroti Protection Gap
Sementara itu, dari sektor perbankan dan lembaga pembiayaan, OJK mendorong integrasi asuransi bencana terhadap aset agunan sebagai bagian dari manajemen risiko kredit.
Dengan kolaborasi yang kuat antara regulator, pemerintah, dan industri asuransi, Munawar menilai pengembangan asuransi bencana dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat ketahanan keuangan nasional sekaligus mengurangi beban fiskal akibat bencana alam yang terus meningkat.
“Asuransi bencana ini sudah harus bergerak dan langsung action, langsung ada. Dan mencoba untuk kolaborasi untuk menguatkan komitmen, bersama,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Jobstreet meluncurkan fitur Basic Talent Search yang memberi akses hingga 50 juta profil… Read More
Poin Penting Komisi XI DPR menetapkan Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua OJK periode 2026–2031 setelah… Read More
Poin Penting Komisi XI DPR RI menetapkan lima anggota Dewan Komisioner OJK periode 2026–2031 setelah… Read More
Poin Penting Bank Aladin Syariah menargetkan pertumbuhan 9-11 persen pada 2026 dengan memperkuat layanan digital… Read More
Poin Penting BNI membuka layanan terbatas di 23 outlet pada 20 Maret 2026 dan 32… Read More
Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) menyelenggarakan acara buka bersama yang dihadiri oleh anggota sekaligus… Read More