Keuangan

OJK: Total Aset Asuransi pada Juni 2025 Capai Rp1.163,11 Triliun, Tumbuh 3,27 Persen

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa total aset industri asuransi per Juni 2025 tercatat mencapai Rp1.163,11 triliun atau mengalami pertumbuhan 3,27 persen secara tahunan.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, merinci bahwa kinerja asuransi komersial menunjukkan akumulasi pendapatan premi sebesar Rp166,26 triliun hingga Juni 2025, atau meningkat 0,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Pada sektor perasurasian penjaminan dan dana pensiun, aset industri asurasi pada Juni 2025 mencapai Rp1.163,11 triliun, tumbuh 3,27 persen. Kinerja asurasi komersial untuk akumulasi pendapatan premi hingga Juni mencapai Rp166,26 triliun atau tumbuh 0,65 persen,” ujar Mahendra dalam Konferensi Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) III dikutip, Selasa, 29 Juli 2025.

Baca juga: OJK Tegaskan Seluruh Asuransi Wajib Punya Aktuaris

Meski mengalami pertumbuhan, kinerja tersebut sedikit melambat dibandingkan dengan Mei 2025. Pada bulan sebelumnya, pertumbuhan total aset dan premi masing-masing mencapai 3,84 persen dan 0,88 persen, dengan nilai Rp1.163,62 triliun dan Rp138,61 triliun.

Secara umum, permodalan di industri asuransi komersial masih memadai dan solid. Rasio kecukupan modal berbasis risiko atau Risk Based Capital (RBC) untuk industri asuransi jiwa tercatat sebesar 473,55 persen, sedangkan untuk asuransi umum dan reasuransi sebesar 313,33 persen. Angka ini jauh melampaui ambang batas minimum sebesar 120 persen.

“Di sisi industri dana pensiun, total aset dana pensiun pada Juni 2025 tumbuh 8,99 persen YoY mencapai Rp1.578,46 triliun,” imbuhnya.

Baca juga: Ini yang Dilakukan OJK untuk Industri Asuransi di Tengah Berbagai Tantangan

Sementara itu, di sektor lembaga pembiayaan, perusahaan modal ventura, lembaga keuangan mikro, dan lembaga jasa keuangan lainnya, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 1,96 persen per Juni 2025, dengan nominal Rp501,83 triliun.

Adapun profil risiko perusahaan pembiayaan tetap terjaga dengan rasio non-performing financing (NPF) nett sebesar 0,88 persen dan gross sebesar 2,65 persen. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

BEI Proyeksi Outflow Investor Asing pada Maret 2026 Tak Terlalu Deras, Ini Alasannya

Poin Penting BEI memproyeksikan outflow investor asing pada Maret 2026 tidak terlalu deras karena turnover… Read More

15 mins ago

KPK Sita Aset Rp100 Miliar Lebih dalam Kasus Kuota Haji yang Menjerat Gus Yaqut

Poin Penting KPK menyita aset lebih dari Rp100 miliar terkait penyidikan kasus dugaan korupsi kuota… Read More

30 mins ago

Investor Asing Inflow Rp905,27 Miliar, 5 Saham Ini Terbanyak Diborong

Poin Penting Investor asing mencatat net buy Rp905,27 miliar pada perdagangan 12 Maret 2026. Saham… Read More

1 hour ago

LPS Siapkan Program Penjaminan Polis Asuransi, Target Berlaku 2027

Poin Penting LPS menargetkan aktivasi Program Penjaminan Polis (PPP) pada 2027, dengan implementasi penuh direncanakan… Read More

1 hour ago

Rupiah Tertekan Konflik Timur Tengah, Dibuka di Level Rp16.923 per Dolar AS

Poin Penting Rupiah dibuka turun 0,18 persen ke Rp16.923 per dolar AS. Lonjakan harga minyak… Read More

3 hours ago

Harga Emas Antam, Galeri24 dan UBS Hari Ini (13/3) Anjlok, per Gram jadi Segini

Poin Penting Emas Antam, Galeri24, dan UBS kompak mengalami penurunan pada 13 Maret 2026. Harga… Read More

3 hours ago