Keuangan

OJK: Sektor Jasa Keuangan Harus Berperan Aktif Dorong Ekonomi Berkelanjutan

Poin Penting

  • OJK menekankan pentingnya sinergi antara sektor energi, agribisnis, dan keuangan untuk memperkuat ekosistem hijau yang berdaya saing dan berkelanjutan.
  • Green bonds, sustainability linked loans, dan nilai ekonomi karbon disebut menjadi solusi pembiayaan aktivitas ramah lingkungan menuju target net zero emission 2060.
  • Berdasarkan UU P2SK, OJK mendorong pelaku industri keuangan untuk menerapkan prinsip keuangan berkelanjutan, dengan dukungan instrumen.

Jakarta – Wakil Ketua Dewan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mirza Adityaswara menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor di tengah perubahan iklim, ketahanan energi serta ketahanan pangan menjadi isu global. 

Sejalan dengan itu, tuntutan untuk bertransformasi semakin kuat tidak hanya di sektor energi, tetapi juga dalam sistem keuangan dan agribisnis yang menopang kehidupan manusia. 

“Dengan kolaborasi yang baik antara sektor energi, agribisnis, dan keuangan, kita dapat memperkuat ekosistem hijau yang berdaya saing dan berkelanjutan,” ujar Mirza dalam acara Forum Diskusi “Synergizing Energy, Finance & Agribusiness for a Greener Future” di DoubleTree by Hilton Jakarta, Bintaro Jaya, Jumat, 31 Oktober 2025.

Baca juga: Infobank dan Kemenpora Gelar Forum Diskusi “Synergizing Energy, Finance, & Agribusiness for a Greener Future”

Ia mengungkapkan, inovasi energi terbarukan dan efisiensi energi menjadi kunci transisi menuju net zero emission di Indonesia tahun 2060. Saat ini, lanjut Mirza, di sektor agribisnis terdapat praktik pertanian berlanjutan, pengelolaan sumber daya alam yang bijak dan ekonomi sirkular akan meningkatkan produtifitas dengan tetap menjaga keanekaragaman hayati.

Adapun di sektor keuangan, instrumen seperti green bonds, sustainability linked loans, dan nilai ekonomi karbon hadir sebagai solusi untuk pembiayaan aktivitas yang berkelanjutan.

Namun, kata Mirza, usaha ini tidak bisa berjalan sendiri. Sebab dibutuhkan regulasi yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan juga kolaborasi lintas sektor serta partisipasi aktif masyarakat.

Pemerintah, regulator, pelaku usaha, dan akademisi harus bersama-sama merancang kebijakan melakukan riset inovatif untuk menghadirkan solusi yang mendukung pertumbuhan.

“Oleh karena itu, sektor jasa keuangan harus mengambil peran proaktif dalam mendorong dan membiayai transformasi menuju ekonomi yang berkelanjutan,” jelasnya.

Peran Industri Jasa Keuangan

Mirza juga menegaskan, OJK sebagai regulator sektor jasa keuangan memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan keuangan berkelanjutan. Hal ini merupakan bentuk pelaksanaan mandat undang-undang No.4 tahun 2023 (UU P2SK), yakni undang-undang tentang pengembangan dan penguatan sektor keuangan. 

Baca juga:Begini Strategi Keberlanjutan Pertamina EP Dongkrak Kesejahteraan Masyarakat

Ia menyebut, dalam pasal di Pasal 222 telah tercantum secara jelas bahwa pelaku usaha sektor keuangan, para emiten dan perusahaan publik menerapkan keuangan berkelanjutan dalam kegiatan usahanya. Hal ini menegaskan komitmen yang perlu dilaksanakan oleh setiap pelaku industri di Indonesia.

Mirza menambahkan, saat ini berbagi upaya telah dan akan dilakukan OJK dalam rangka pengembangan dan implementasi keuangan berkelanjutan. Antara lain, Taksonomi Keuangan Berkelanjutan sebagai pedoman klasifikasi aktivitas ekonomi yang berfungsi sebagai standar acuan bersama bagi para pemangku kepentingan untuk meningkatkan pembiayaan berkelanjutan. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Porsi Pembiayaan Meningkat, Maybank Indonesia Perkuat Pembiayaan SME Syariah

Poin Penting PT Bank Maybank Indonesia Tbk memperkuat pembiayaan SME syariah sebagai pilar utama pengembangan… Read More

1 hour ago

Libur Panjang Nyepi dan Idul Fitri, Tarif LRT Jabodebek Dipatok Maksimal Rp10.000

Poin Penting PT Kereta Api Indonesia (Persero) menetapkan tarif maksimal LRT Jabodebek sebesar Rp10.000 selama… Read More

1 hour ago

Wacana Pemotongan Gaji Pejabat Diminta jadi Gerakan Disiplin Fiskal Nasional

Poin Penting Anggota Komisi II DPR RI Ali Ahmad menilai wacana pemotongan gaji pejabat yang… Read More

2 hours ago

Bank Maspion Kantongi ‘Dana Segar’ USD285 Juta dari KBank, Perkuat Likuiditas Kredit

Poin Penting PT Bank Maspion Indonesia Tbk memperoleh fasilitas pinjaman USD285 juta dari KASIKORNBANK Public… Read More

2 hours ago

IHSG Jelang Libur Panjang Nyepi dan Idul Fitri Ditutup Naik 1,60 Persen ke Level 7.106

Poin Penting IHSG ditutup menguat 1,20 persen ke level 7.106,83 pada perdagangan Selasa (17/3), menjelang… Read More

2 hours ago

Survei Amar Bank Sebut 87 Persen Responden Alami Kenaikan Pengeluaran di Periode Lebaran

Poin Penting Survei Amar Bank terhadap 1.600 responden menunjukkan 87 persen masyarakat mengalami kenaikan pengeluaran… Read More

2 hours ago