Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK secara virtual, Jumat, (9/1/2026). (Tangkapan layar YouTube Otoritas Jasa Keuangan: M. Ibrahim)
Poin Penting
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat piutang pembiayaan perusahaan multifinance mencapai Rp506,82 triliun per November 2025. Jumlah ini tumbuh 1,095 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY).
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman mengatakan, pertumbuhan tersebut didukung oleh pembiayaan modal kerja.
“Hal ini didukung oleh pembiayaan modal kerja yang tumbuh sebesar 8,99 persen secara tahunan (yoy), “ ujar Agusman dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK secara virtual, Jumat, 9 Januari 2026.
Baca juga: Pembiayaan Mutifinance Oktober 2025 Capai Rp505,30 Triliun, Cuma Tumbuh 0,68 Persen
Lebih lanjut, profil risiko perusahaan pembiayaan tetap terjaga, di mana rasio Non Performing Financing (NPF) gross per November 2025 sebesar 2,44 persen.
Sementara itu, rasio NPF net multifinance tercatat sebesar 0,85 persen per November 2025.
Adapun gearing ratio perusahaan multifinance tercatat sebesar 2,13 kali per November 2025. Angka ini masih jauh di bawah batas maksimun yang ditetapkan regulator, yakni 10 kali.
Pada sektor pembiayaan modal ventura, OJK mencatat pertumbuhan yang cukup signifikan. Hingga November 2025, nilai pembiayaan modal ventura mencapai Rp16,29 triliun.
“Pembiayaan modal ventura pada November 2025 tumbuh 1,20 persen YoY, dengan nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp16,29 triliun,” pungkasnya.
Baca juga: Kredit Macet Pindar Anak Muda Makin Bengkak, OJK Ungkap Biang Keroknya
OJK memproyeksikan industri modal ventura pada 2026 tetap berpotensi tumbuh positif meski terbatas. Pertumbuhan tersebut diperkirakan didorong oleh fokus pembiayaan pada startup yang sudah profitable, ekspansi ke sektor hilirisasi, dan peningkatan investasi berbasis syariah.
“Industri ini perlu mewaspadai tekanan akibat tech winter, dinamika perekonomian, dan keterbatasan sumber pendanaan,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Defisit APBN 2025 tercatat 2,92 persen dari PDB, melebar dari target 2,53 persen,… Read More
Poin Penting Bank Muamalat menegaskan isu dana nasabah hilang tidak benar, karena video viral terkait… Read More
Poin Penting Utang paylater perbankan mencapai Rp26,20 triliun per November 2025, tumbuh 20,34 persen (yoy)… Read More
Poin Penting OJK membentuk Departemen Pengaturan dan Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah untuk mendorong pertumbuhan… Read More
Poin Penting KPK menetapkan Gus Yaqut sebagai tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji dan penyelenggaraan… Read More
Poin Penting IHSG ditutup menguat tipis sebesar 0,13 persen ke level 8.936,75, dengan transaksi mencapai… Read More