Ilustrasi platform berbasis AI. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Memasuki awal 2026, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak lagi sekadar tren eksperimental, melainkan mulai menjadi bagian penting dalam infrastruktur bisnis, termasuk bagi industri modal ventura (venture capital/VC).
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman menilai perkembangan AI berpotensi besar dimanfaatkan oleh industri modal ventura.
“Perkembangan artificial intelligence (AI) berpotensi dimanfaatkan oleh industri modal ventura, baik melalui pendanaan langsung kepada perusahaan pengembang AI maupun secara tidak langsung melalui penerapan AI pada sektor-sektor ekonomi lainnya,” ujar Agusman, dikutip Selasa, 13 Januari 2026.
Baca juga: Di Tengah Tech Winter, Kinerja Industri Modal Ventura Tetap Impresif, Ini Buktinya
Menurut Agusman, salah satu sektor yang berpotensi menjadi sasaran pendanaan modal ventura pada 2026 adalah perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi serta perawatan mobil dan sepeda motor.
“Perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi dan perawatan mobil serta sepeda motor, yang mencatat pembiayaan/penyertaan sebesar Rp7,85 triliun pada November 2025,” jelasnya.
Diketahui, kinerja industri modal ventura Indonesia masih menunjukan performa yang impresif.
Hal itu tecermin dari laba bersih industri modal ventura yang tumbuh signifikan sebesar 150,78 persen secara tahunan (yoy), mencapai Rp579,77 miliar per November 2025.
“Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan dan perbaikan kualitas portofolio melalui strategi pembiayaan yang lebih selektif,” bebernya.
Baca juga: OJK Cabut Izin Usaha PT Sarana Sulteng Ventura, Ini Alasannya
Agusman menyebutkan, penyaluran pembiayaan industri modal ventura saat ini masih terkonsentrasi pada sejumlah sektor yang memiliki potensi dan kebutuhan pendanaan relatif stabil, khususnya pada pembiayaan kegiatan ekonomi riil.
Ia menjelaskan, terdapat lima sektor yang menjadi penyumbang pembiayaan terbesar. Pertama, sektor pedagang besar dan eceran serta reparasi perawatan mobil dan sepeda motor dengan nilai Rp7,63 triliun, atau setara 68,53 persen.
Selanjutnya, sektor rumah tangga sebagai pemberi kerja, yang mencakup aktivitas produksi barang dan jasa untuk kebutuhan sendiri, dengan nilai Rp766,62 triliun atau sekitar 6,55 persen.
Sektor berikutnya yakni berasal dari pertanian, kehutanan dan perikanan , senilai Rp519,43 triliun atau 4,66 persen.
Kemudian, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar Rp519,43 miliar atau 4,66 persen.
Sektor lainnya adalah penyewaan dan sewa guna usaha tanpa hak opsi ketenagakerjaan, termasuk perjalanan dan penunjang usaha lainnya, dengan nilai Rp412,25 miliar atau 3,70 persen.
Terakhir, sektor industri pengolahan dengan nilai pembiayaan Rp410,78 miliar atau 3,69 persen. (*)
Editor: Yulian Saputra
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pelaksanaan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026 berhasil menghimpun… Read More
Poin Penting WOM Finance menetapkan pembagian dividen tunai maksimal 30 persen dari laba bersih 2025,… Read More
Poin Penting BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia resmi mengumumkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi… Read More
Poin Penting DPR menyoroti perlunya kebijakan kredit yang lebih berpihak pada masyarakat, terutama pelaku UMKM… Read More
Oleh Anto Prabowo, Dosen FEB UNS Solo DI tengah dinamika kebijakan ekonomi nasional, munculnya dua… Read More
Dalam program tersebut, BSN memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi pegawai aktif yang memenuhi kriteria, baik… Read More