Perbankan dan Keuangan

OJK Pede Kredit Perbankan 2026 Tumbuh hingga 12 Persen, Bagaimana Sektor Lain?

Poin Penting

  • OJK proyeksi kredit 2026 tumbuh 10–12 persen, ditopang DPK 7–9 persen dan kinerja positif sektor keuangan lainnya
  • Sektor jasa keuangan tumbuh 7,92 persen (yoy) di Kuartal IV 2025, tertinggi sejak 2021; rasio aset keuangan 184 persen terhadap PDB
  • Perbankan solid, DPK tumbuh 11,4 persen, LDR 84 persen, dan CAR 26 persen, sehingga ruang ekspansi kredit masih terbuka.

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimis kinerja solid sektor keuangan pada 2025 terus berlanjut tahun ini. OJK memproyeksi kredit perbankan bisa tumbuh 10-12 persen di 2026.

Pertumbuhan kredit diperkirakan akan ditopang oleh laju dana pihak ketiga (DPK) di kisaran 7-9 persen. Sedangkan aset program asuransi ditargetkan tumbuh 5-7 persen. Aset program dana pensiun diproyeksi tumbuh solid, sekitar 10-12 persen.

Lalu, aset program penjaminan diperkirakan meningkat 14-16 persen. Adapun piutang perusahaan pembiayaan diyakini bisa tumbuh 6-8 persen. Sedangkan penghimpunan dana di pasar modal ditargetkan tembus Rp250 triliun.

Optimisme itu disampaikan Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam webinar Economic Outloik 2026 di Jakarta, Kamis, 19 Februari 2026.

Menurut Friderica, tren positif kinerja sektor jasa keuangan yang dicatatkan pada 2025 bisa berlanjut di tahun ini. Keyakinan itu mempertimbangkan berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi, serta kebijakan-kebijakan yang diambil.

Baca juga: BI Catat Kredit Perbankan Januari 2026 Tumbuh 9,96 Persen

Adapun pada kuartal IV 2025, sektor jasa keuangan tercatat tumbuh 7,92 persen secara tahunan. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Juni 2021.

Laju kencang sektor jasa keuangan berimbas pada meningkatnya kontribusi sektor ini terhadap perekonomian nasional. Hal ini terefleksi dari rasio aset dan produk keuangan Indonesia yang telah mencapai 184 persen terhadap PDB, didukung meningkatnya partisipasi di pasar modal dan diversifikasi produk keuangan yang lebih luas.

“Data BPS menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan tumbuh sebesar 7,92% secara tahunan pada periode yang sama, yang merupakan laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal II tahun 2021,” tegas Friderica.

Ia menambahkan, pertumbuhan tinggi sektor jasa keuangan antara lain ditopang subsektor asuransi dan dana pensiun serta penunjang keuangan yang berhasil turnaround, tumbuh positif pada 2025 setelah sebelumnya selalu tumbuh negatif di dua tahun terakhir.

Adapun jika dirinci, rasio aset dan produk keuangan terdiri dari kapitalisasi pasar dan surat utang beredar mencapai Rp24.773 triliun, atau sebesar 104 persen. Lalu, aset perbankan sebesar Rp13.889 triliun atau 58,3 persen.

Selanjutnya, aset sektor Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) serta Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) sebesar Rp4,056 triliun atau 17 persen, Aset Lembaga Keuangan Pasar Modal sebesar Rp87.67 triliun atau 0,4 persen dan aset Dana Kelolaan sebesar Rp1.043 triliun atau 4,4 persen.

Ke depan, lanjut Friderica, OJK akan terus menjaga stabilitas sektor jasa keuangan tetap solid, lewat penetapan tiga kebijakan prioritas, yaitu penguatan ketahanan sektor jasa keuangan, pengembangan ekosistem keuangan yang semakin kontributif terhadap perekonomian, serta pendalaman pasar keuangan yang berkelanjutan, termasuk penguatan keuangan berkelanjutan.

Di ksempatan sama, Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, mengungkapkan, industri jasa keuangan memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas, memperkuat transmisi kebijakan, serta mendukung sektor-sektor produktif.

“Dengan sinergi regulator dan pelaku industri, tata kelola yang kuat, manajemen risiko yang disiplin, serta komitmen terhadap transformasi, saya meyakini sistem keuangan Indonesia akan tetap resilient dan mampu tumbuh sehat di tengah tantangan global,” tegasnya.

Baca juga: Bos BRI Ungkap Alasan Kredit Perbankan Melambat di 2025

Menurut Hery, industri perbankan berada pada posisi solid untuk menopang pertumbuhan kredit ke depan. Dari sisi likuiditas, pertumbuhan DPK kembali menguat hingga double digit sebesar 11,4 persen secara tahunan. Rasio loan to deposit ratio (LDR) terjaga di kisaran 84 persen. Ini menunjukkan bahwa ruang ekspansi kredit masih terbuka luas.

Fundamental perbankan juga kokoh. Dengan capital capital adequacy ratio (CAR) di level 26 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Buffer modal yang tebal ini memberikan daya tahan terhadap risiko kualitas aset, sekaligus ruang untuk mendorong pertumbuhan kredit secara prudent dan berkelanjutan. (*) Ari Astriawan

Galih Pratama

Recent Posts

Kolaborasi KB Bank dan BNI-AM Perluas Akses Investasi Nasabah

Poin Penting PT Bank KB Indonesia Tbk gandeng PT BNI Asset Management untuk distribusi 8… Read More

3 hours ago

Bos BI Minta Bank Masih Perlu Turunkan Suku Bunga

Poin Penting Gubernur Perry Warjiyo meminta perbankan terus menurunkan suku bunga dana dan kredit agar… Read More

8 hours ago

Pesawat Pelita Air Jatuh di Kalimantan, Pilot Tewas

Poin Penting Pesawat Air Tractor AT-802 (PK-PAA) milik Pelita Air Service jatuh saat mengangkut BBM… Read More

8 hours ago

Bank Danamon (BDMN) Bukukan Total Kredit Rp212,7 Triliun di 2025

Poin Penting Bank Danamon mencatat total kredit dan trade finance Rp212,7 triliun pada 2025, tumbuh… Read More

8 hours ago

OJK: Ramadan Jadi Pendorong Pembiayaan Pindar

Poin Penting Ramadan dorong lonjakan pindar: OJK mencatat penyaluran P2P lending naik saat Ramadan; 2024… Read More

8 hours ago

Rupiah Masih Undervalued, Bos BI Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut pelemahan rupiah dipicu premi risiko global, meski fundamental… Read More

9 hours ago