Perbankan

OJK: Kredit Perbankan Tumbuh 7,70 Persen Jadi Rp8.163 Triliun pada September 2025

Poin Penting

  • Kredit perbankan tumbuh 7,70% yoy menjadi Rp8.163 triliun pada September 2025, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 7,56%.
  • Kredit investasi naik tertinggi 15,18%, sementara DPK tumbuh 11,81% yoy menjadi Rp9.695 triliun, menunjukkan likuiditas perbankan tetap kuat.
  • Rasio NPL gross 2,24% dan CAR 26,15%, menandakan kualitas kredit serta ketahanan permodalan perbankan masih terjaga.

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pada September 2025 kredit perbankan mulai meningkat yakni, sebesar 7,70 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) atau menjadi Rp8.163 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 7,56 persen yoy.

“Kinerja intermediasi perbankan pada saat ini stabil dengan profil risiko yang terjaga dan aktivitas operasional perbankan tetap optimal untuk memberikan layanan keuangan bagi masyarakat. Di September 2025 kredit tumbuh sebesar 7,70 persen yoy,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK secara virtual, Jumat, 7 November 2025.

Dian menjelaskan, berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 15,18 persen, diikuti dengan kredit konsumsi 7,42 persen, dan kredit modal kerja 3,37 persen.

Sementara itu, berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 11,53 persen, dan kredit UMKM tumbuh 0,23 persen.

Baca juga: OJK Pastikan Stabilitas Keuangan Nasional Aman di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) pada September 2025 tercatat tumbuh 11,81 persen yoy menjadi Rp9.695 triliun, lebih tinggi dibandingkan Agustus 2025 yang tumbuh 8,51persen.

Sementara itu, likuiditas industri perbankan pada September 2025 tetap memadai dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 130,47 dan 29,30 persen.

“Masih di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Adapun liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 205,94 persen,” pungkasnya.

Baca juga: OJK: Ekonomi RI Tumbuh Solid di Level 5,04 Persen

Lebih lanjut, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross perbankan sebesar 2,24 persen dan NPL net sebesar 0,87 persen. Kemudian, untuk loan at risk (LAR) sebesar 9,52 persen.

Adapun ketahanan perbankan Indonesia pada September 2025 tetap kuat. Tecermin dari permodalan (CAR) perbankan yang tinggi sebesar 26,15 persen.

“Ini menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi kondisi ketidakpastian global,” imbuh Dian. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Recent Posts

Ini Plus Minus Implementasi Demutualisasi BEI

Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More

9 hours ago

DPR Soroti Konten Sensasional Jadi Pintu Masuk Judi Online

Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More

9 hours ago

Program Gentengisasi Prabowo, Menkeu Purbaya Proyeksi Anggaran Tak Sampai Rp1 T

Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More

11 hours ago

Fundamental Kokoh, Bank BPD Bali Catatkan Pertumbuhan Positif dan Rasio Keuangan Sehat

Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More

11 hours ago

Demutualization of the IDX, a “Bloodless” Coup Three OJK Commissioner Resign Honourably

By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More

11 hours ago

Danantara Dukung Reformasi Pasar Modal dan Kebijakan Free Float OJK, Ini Alasannya

Poin Penting Danantara menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal yang digulirkan OJK, termasuk kebijakan… Read More

12 hours ago