KE PBKN OJK, Dian Ediana Rae di Jakarta, Kamis (26/2). (Foto: Steven Widjaja)
Poin Penting
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan (Kemenkeu), menyiapkan strategi untuk menurunkan suku bunga kredit perbankan agar lebih terjangkau bagi masyarakat.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan bunga kredit perbankan telah turun ke kisaran 8 persen dari sebelumnya di atas 9 persen. Penurunan tersebut akan terus didorong melalui sejumlah kebijakan, termasuk penempatan dana pemerintah di bank Himbara serta pengendalian kebijakan special rate.
“Misalnya katakanlah SAL ini tetap stay di sana. Lalu, sekarang Menteri Keuangan bicara dengan kita bahwa dia tak akan meng-encourage special rate. Lembaga pemerintah atau BUMN yang melakukan negosiasi itu sekarang juga disuruh ditekan,” kata Dian saat ditemui pasca acara The 2nd Indonesia Climate Banking Forum di Hotel Mandarin Oriental Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.
Baca juga: Lagi, BI Minta Bank Turunkan Suku Bunga Kredit, Begini Tanggapan BCA
Dian menjelaskan, penurunan bunga kredit akan menekan biaya pinjaman sehingga kredit menjadi lebih terjangkau. Kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan kredit dari masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Bila bunga kredit ke nasabah itu turun, tentu ini akan meng-encourage orang untuk melakukan pinjaman, entah untuk konsumsi dan lainnya. Sehingga, perekonomian bakal semakin menggeliat. Intinya begitu,” jelas Dian.
Selain menguntungkan debitur, penurunan bunga kredit juga berpotensi meningkatkan penyaluran kredit perbankan karena permintaan yang lebih tinggi.
Meski demikian, Dian mengakui penurunan bunga kredit konsumsi relatif lebih sulit karena karakteristik risiko yang berbeda, termasuk tenor pendek dan tingkat perputaran yang tinggi.
“Terkadang itu bagian lifestyle juga. Kenapa orang menggunakan kartu kredit atau BNPL, dalam konteks konsumsi, ya itu lifestyle saja. Saya punya uang sebetulnya bisa dilunasin, tapi gak usah sekarang, tunggu gajian tanggal sekian. Ada pula yang dibayar lunas, ada yang tidak,” sebutnya.
Baca juga: Mirae Asset Optimistis Kredit Bank Tumbuh 11 Persen di 2026, Ini Pendorongnya
Karena bagian dari lifestyle, ia melihat hal itu biasa dilakukan oleh masyarakat. Oleh karenanya, ia menegaskan, sebagai satu-satunya solusi terkait hal ini ialah penguatan manajemen risiko di pihak perbankan atau lembaga keuangan.
“Kalau bank yang namanya digital misalnya, wajar-wajar saja gitu kan, karena dia konsumsi lebih banyak, bukan investasi. Jadi, tentu itu adalah bagaimana manajemen risiko ya,” tandas Dian. (*) Steven Widjaja
Poin Penting: Pikap India Mahindra Scorpio telah diserahkan ke Kopdes Merah Putih di Surabaya dengan… Read More
Poin Penting Investor syariah melakukan 30,6 miliar saham dengan frekuensi 2,7 juta kali pada 2025.… Read More
Poin Penting OJK menyetujui merger empat BPR di Priangan Timur menjadi PT BPR Nusamba Tanjungsari… Read More
Poin Penting BCA tetap memimpin laba bersih – PT Bank Central Asia (BCA) mencatat laba… Read More
Poin Penting BSI meraih sertifikasi internasional ISO 27701:2019 sebagai bukti komitmen memperkuat perlindungan data pribadi… Read More
Poin Penting Bank Mandiri memproyeksikan BI Rate hanya dipangkas maksimal dua kali pada 2026 dengan… Read More