Nasional

OJK Coba Putus Mata Rantai Tengkulak di Sektor Pertanian

Batu–Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen mendorong pengembangan sektor pertanian dengan mencoba memutus mata rantai tengkulak, yang memang selama ini mengambil peran vital dalam pembentukan harga pasar.

“Nah OJK ingin fokus ke pangan pada 11 komoditi. 11 komoditi itu kontribusinya sangat besar ya terhadap inflasi. Kalau ini bisa kita maintain dengan baik maka inflasi rendah dan pastinya suku bunganya juga jadi rendah,” tutur Kepala Departemen Komunikasi dan Internasional OJK, Slamet Edy Purnomo di Batu, Kamis, 2 Juni 2016.

Dalam menjaga stabilitas harga 11 komoditas tersebut, pihaknya juga akan memanfaatkan peranan teknologi informasi seperti e-commerce sehingga para petani dan peternak serta masyarakat bisa mengakses informasi harga pasar yang real.

“Di sini nanti ada peran e-commerce juga supaya masyarakat punya akses market. Misalnya harga bawang di petani Rp15 ribu tapi di pasar Rp45 ribu sampai Rp50 ribu, karena apa? Karena masyarakat tidak ada informasi. Ini dimainkan oleh artbitrase para pedagang atau tengkulak. Dengan kita integrasikan dengan namanya value chain ada peran e-commerce yang memberikan informasi,” papar Edy.

Dengan begitu, tambahnya, masyarakat cukup pakai handphone saja untuk mengetahui informasi harga, sehingga pedagang tidak bisa asal tembak harga langsung Rp45 ribu karena masyarakat tahu informasinya.

“Jadi mata rantai tengkulaknya itu kita putus. Nah OJK memberikan satu peran, kita mendorong 11 komoditi ini bagaimana harganya bisa stabil. Kalau sudah stabil inflasi juga stabil,” sebut Slamet.

Adapun 11 komoditas dimaksud di antaranya adalah padi, jagung, kedelai, daging sapi, daging ayam, bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan cabai keriting. “Tapi yang utama untuk tiga pertama tadi. Kalau tidak salah sudah ada PP-nya, sudah ada off-taker-nya yang wajib beli itu Bulog,” tuturnya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Sari Agung, Pujon Kidul, Muslimin mengatakan, yang paling penting bagi para petani dan peternak adalah kepastian harga. “Kalau gagal panen petani masih bisa antisipasi (karena sudah pengalaman mencari solusi hadapi gagal panen). Makanya pemerintah perlu jaga stabilitas harga, kalau harga anjlok susah,” tukasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulan Mei 2016 tercatat sebesar 0,24 persen. Dengan demikian inflasi tahun kalender 2016 (Januari-Mei) mencapai sebesar 0,4 persen. Inflasi tahun ke tahun (Mei 2015-Mei 2016) sebesar 3,33 persen.

Inflasi terjadi di semua komponen dan terutama bersumber dari komponen bahan makanan bergejolak (volatile foods) dan komponen barang yang diatur pemerintah (administered prices).

Komponen volatile foods (VF) menyumbang inflasi yang paling besar yakni 0,32% (mtm) atau secara tahunan 8,15% (yoy). Inflasi komponen ini terutama bersumber dari peningkatan harga komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan minyak goreng. Sedangkan Komponen administered prices (AP) secara bulanan mencatat inflasi sebesar 0,27% (mtm), atau secara tahunan mencatat deflasi sebesar 0,95% (yoy). (*)

 

 

Editor: Paulus Yoga

Paulus Yoga

Recent Posts

KCIC Pastikan Whoosh Aman di Tengah Cuaca Ekstrem, Sensor Berjalan Optimal

Poin Penting Kereta Whoosh sempat berhenti akibat seng di jalur, namun sensor mendeteksi dini dan… Read More

10 hours ago

RI-Jepang Teken MoU Rp384 T, DPR Soroti Realisasi di Lapangan

Poin Penting Jepang menandatangani MoU investasi senilai Rp384 triliun dengan Indonesia. Kerja sama mencakup sektor… Read More

11 hours ago

Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon, RI Desak Investigasi dan Evaluasi UNIFIL

Poin Penting Tiga prajurit TNI gugur dan tiga lainnya terluka dalam misi UNIFIL di Lebanon.… Read More

11 hours ago

Saham Bank INFOBANK15 Bergerak Variatif di Akhir Pekan, Ini Rinciannya

Poin Penting IHSG ditutup turun 2,19% pada 2 April 2026, diikuti pelemahan seluruh indeks utama.… Read More

17 hours ago

BEI Rangkum 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Poin Penting IHSG melemah 0,99% sepekan, dengan lima saham utama menjadi penekan terbesar indeks. BREN… Read More

18 hours ago

IHSG Sepekan Melemah 0,99 Persen, Kapitalisasi Pasar jadi Rp12.305 Triliun

Poin Penting IHSG melemah 0,99% dalam sepekan ke level 7.026,78, seiring mayoritas indikator pasar saham… Read More

18 hours ago