Perbankan

OJK Catat Kredit Perbankan Oktober 2025 Tumbuh Melambat 7,36 Persen

Poin Penting

  • Kredit melambat menjadi 7,36 persen yoy pada Oktober 2025, dengan pendorong utama kredit investasi yang tumbuh tinggi 15,72 persen, sementara kredit UMKM justru terkontraksi 0,11 persen.
  • Likuiditas perbankan tetap kuat, tercermin dari DPK yang naik 11,48 persen yoy serta rasio AL/NCD 130,97 persen, AL/DPK 29,47 persen, dan LCR 210,43 persen, jauh di atas ambang batas.
  • Ketahanan perbankan solid, ditunjukkan oleh CAR 26,38 persen, serta kualitas kredit terjaga dengan NPL gross 2,25 persen, NPL net 0,90 persen, dan LAR 9,41 persen.

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit perbankan tumbuh 7,36 persen secara tahunan (year on year/yoy) atau menjadi Rp8.220 triliun pada Oktober 2025. Angka ini melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 7,70 persen yoy.

“Kinerja intermediasi perbankan meningkat dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas di level yang memadai. Pada Oktober 2025 kredit tumbuh sebesar 7,36 persen yoy,” kata Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK dalam Konferensi Pers RDK, Kamis, 11 Desember 2025.

Berdasarkan jenis penggunaan, kata Dian, kredit investasi tumbuh tertinggi sebesar 15,72 persen, diikuti dengan kredit konsumsi 7,03 persen, dan kredit modal kerja 2,3 persen.

Baca juga: OJK Berikan Relaksasi Kredit untuk Debitur Terdampak Bencana Sumatra

Sedangkan berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 11,02 persen. Adapun kredit UMKM terkontraksi tipis 0,11 persen.

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Oktober 2025 tercatat tumbuh sebesar 11,48 persen yoy menjadi Rp9.756 triliun. Ini lebih tinggi dibandingkan September 2025 yang tumbuh11,18 persen.

Sementara itu, likuiditas industri perbankan pada Oktober 2025 tetap memadai dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 130,97 dan 29,47 persen.

“Masih di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Adapun liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 210,43 persen,” jelasnya.

Baca juga: Pengamat Beberkan Risiko Besar di Balik Wacana Penghapusan SLIK OJK

Lebih lanjut, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio Non Performing Loan (NPL) gross perbankan sebesar 2,25 persen dan NPL net sebesar 0,90 persen. Kemudian, untuk loan at risk (LAR) sebesar 9,41 persen.

Adapun ketahanan perbankan Indonesia pada Oktober 2025 tetap kuat. Ini tercermin dari permodalan (CAR) perbankan yang tinggi di level 26,38 persen.

“Ini menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi kondisi ketidakpastian global,” papar Dian. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

IHSG Rawan Terkoreksi, Ini 4 Saham yang Tetap Berpotensi Kasih Cuan

Poin Penting MNC Sekuritas menilai IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi untuk menguji area 8.710–8.887, dengan… Read More

1 min ago

Ngeri! Jangan Adili Niat Baik Para Profesional BUMN dan BUMD

Oleh Tim The Finance SEBUAH paradoks berbahaya menggeliat dalam tubuh Republik Indonesia. Di satu sisi,… Read More

5 hours ago

OJK Buka Suara soal Dugaan Penipuan Kripto yang Libatkan Timothy Ronald

Poin Penting OJK mengonfirmasi telah menerima laporan dugaan penipuan trading kripto yang diduga melibatkan Timothy… Read More

12 hours ago

Seleksi Deputi Gubernur BI Bergulir, Misbakhun Sebut Kewenangan Ada di Presiden

Poin Penting Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun menegaskan pengusulan calon Deputi Gubernur BI… Read More

12 hours ago

Penipuan Online Kian Mengkhawatirkan, OJK Ungkap Guru Besar Jadi Korban

Poin Penting OJK mengungkap penipuan online bisa menimpa siapa saja, termasuk guru besar dan kalangan… Read More

13 hours ago

RUPSLB Bank Banten Sahkan Perubahan Direksi dan Komisaris

Poin Penting RUPSLB Bank Banten yang dihadiri Gubernur Banten Andra Soni menetapkan perubahan struktur pengurus… Read More

13 hours ago