Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, dan Lembaga Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman, dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan September 2025. (Foto: tangkapan layar)
Poin Penting
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa ada 4 dari 156 perusahaan pembiayaan belum memenuhu ketentuan kewajiban ekuitas Rp100 miliar dan 9 dari 96 fintech peer to peer lending atau pinjaman daring (pindar) belum memenuhi kewajiban ekuitas Rp12,5 miliar hingga September 2025.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman menerangkan seluruh penyelenggara pindar tersebut telah menyampaikan action plan kepada OJK.
“OJK akan terus melakukan langkah-langkah yang diperlukan berdasarkan progress action plan, agar pemenuhan kewajiban ekuitas minimum dimaksud dapat tercapai, baik melalui injeksi modal dari pemegang saham maupun dari strategic investor yang kredibel, serta opsi pengembalian izin usaha,” jelas dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK secara virtual, Kamis, 9 Oktober 2025.
Baca juga: Cek Daftar 96 Pindar Resmi Berizin OJK per Oktober 2025
Sementara dalam upaya penguatan dan pengembangan pada industri PVML, kata Agusman, OJK telah menerbitkan SEOJK Nomor 22 Tahun 2025 tentang Laporan Bulanan Lembaga Jasa Keuangan Penyelenggara Kegiatan Usaha Bullion, yang merupakan ketentuan pelaksanaan dari POJK Nomor 17 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Bullion.
Selain itu, kata Agusman OJK tengah menyusun RSEOJK tentang Laporan Bulanan Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Modal Ventura Syariah. Antara lain untukj mengatur mengenai bentuk, periode, dan tata cara penyampaian laporan bulanan secara daring melalui sistem jaringan komunikasi data OJK.
Agus mengungkapkan, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 1,26 persen secara tahunan pada Agustus 2025 menjadi Rp505,59 triliun. Pertumbuhan piutang pembiayaan itu didukung oleh pembiayaan modal kerja yang tumbuh sebesar 7,62 persen secara tahunan.
Selain itu, profil risiko perusahaan pembiayaan juga terjaga dengan rasio non-performing financing atau NPF Gross sebesar 2,51 persen dan NPF Net 0,85 persen.
Baca juga: Tren Merger Multifinance di Tengah Fenomena Rohana dan Rojali
“Gearing ratio perusahaan pembiayaan tercatat sebesar 2,17 kali, atau berada di bawah batas maksimum sebesar 10 kali,” papar Agusman.
Sementara, outstanding pembiayaan pindar pada Agustus 2025 tumbuh 21,62 persen secara tahunan menjadi Rp87,61 triliun.
“Dengan tingkat risiko kredit secara agregat atau tingkat Wanprestasi 90 Hari (TWP90) berada di posisi 2,60 persen,” imbuh Agusman. (*) Steven Widjaja
Poin Penting Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mencatat premi asuransi umum 2025 hanya naik 4,8% menjadi… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo Subianto menegaskan dukungan Indonesia terhadap perdamaian berkelanjutan di Palestina dengan solusi… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 0,03 persen ke 8.271,76. Sebanyak 381 saham terkoreksi, 267 menguat,… Read More
Poin Penting Pendapatan premi asuransi umum sepanjang 2025 naik 4,8% menjadi Rp112,81 miliar. Lini dengan… Read More
Poin Penting Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan kredit perbankan tumbuh sekitar 10 persen… Read More
Poin Penting Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump menyepakati tarif resiprokal 19… Read More