Ilustrasi: Kantor perbankan. (Foto: istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan dampak rambatan dari konflik geopolitik di Timur Tengah bagi industri perbankan Tanah Air.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan sebagai negara penganut sistem perekonomian yang terbuka (open economy), tentu dinamika konflik geopolitik Timur Tengah berpotensi membawa dampak terhadap perekonomian Indonesia, antara lain melalui jalur komoditas dan jalur nilai tukar.
Hal tersebut antara lain berdampak pada harga barang impor (baik barang jadi, setengah jadi, maupun bahan baku) akibat terganggunya pasokan secara langsung maupun melalui harga komoditas (termasuk minyak) yang masih menjadi input utama industri manufaktur.
Baca juga: Konflik AS-Israel dan Iran Memanas, OJK Beberkan Dampaknya ke Pasar Keuangan RI
Jalur distribusi energi global yang terganggu akibat penutupan Selat Hormuz (sebagai jalur utama) berpotensi mendisrupsi harga komoditas energi dan stabilitas perekonomian global.
“Kenaikan harga energi global dapat mendorong kenaikan harga bahan bakar dan biaya distribusi barang, termasuk bahan baku dan pangan, sehingga meningkatkan tekanan inflasi, baik global maupun domestik,” kata Dian dalam jawaban tertulis, dikutip, Jumat, 13 Maret 2026.
Selanjutnya, konflik yang terjadi juga meningkatkan volatilitas di pasar keuangan dan membuat investor bersikap risk-off terhadap asset berisiko terutama pasar keuangan negara berkembang seperti Indonesia yang dapat memicu terjadinya capital outflow yang selanjutnya menekan nilai tukar rupiah.
Dian mengungkapkan kedua risiko tersebut dapat menciptakan risiko bagi perbankan Indonesia khususnya pada risiko keuangan seperti, risiko pasar, risiko kredit, dan risiko likuiditas utamanya likuiditas valas.
Dari sisi risiko pasar, meningkatnya volatilitas di pasar keuangan global serta tekanan terhadap nilai tukar dapat memengaruhi kinerja portfolio keuangan perbankan, khususnya bagi yang memiliki eksposur besar pada liabilitas valuta asing.
Selain itu, potensi terjadinya kenaikan suku bunga global dan domestik yang dipicu oleh tekanan inflasi juga berpotensi menekan valuasi surat berharga yang dimiliki perbankan.
Dari risiko kredit, kenaikan harga energi dan tekanan inflasi dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi pada sektor usaha serta menurunkan profitabilitas perusahaan dan kemampuan membayar debitur, serta daya beli masyarakat.
“Adapun risiko likuiditas valas berpotensi meningkat khususnya jika terjadi capital outflow dari portofolio asing pada SBN maupun saham yang berkepanjangan,” imbuhnya.
Meski demikian, terdapat juga dampak positif dari pelemahan nilai tukar berupa kemungkinan kenaikan nilai ekspor akibat semakin murahnya barang-barang Indonesia bagi para pembeli di luar negeri.
“Kita berharap kenaikan nilai ekspor tersebut dapat mengimbangi potensi capital outflow,” ujar Dian.
Dian menyebutkan, di tengah berbagai risiko yang berasal dari dinamika global tersebut, ketahanan perbankan Indonesia tergolong sangat kuat. Pada Januari 2026 permodalan perbankan terjaga tinggi tecermin dari rasio CAR sebesar 25,87 persen.
Lebih lanjut, risiko kredit perbankan juga tetap terjaga dengan baik, tecermin dari rasio non performing loan (NPL) di bawah 3 persen sebesar 2,14 persen serta tren coverage pencadangan CKPN yang relatif stabil.
Di sisi lain, kondisi likuiditas perbankan masih cukup terjaga dan relatif stabil, dengan AL/DPK dan AL/NCD di atas threshold (10 persen dan 50 persen), juga dengan LDR yang baik sebesar 84,93 persen dan tetap terjaga di range 78-92 persen.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Pemerintah Fokus Perkuat Pasar Domestik
Adapun Liquidity Coverage Ratio (LCR) perbankan tercatat sebesar 197,92 persen, masih jauh di atas threshold dan masih mencukupi untuk memenuhi likuditas jangka pendek perbankan ke depan.
Sementara, khusus untuk likuiditas valas, meskipun terdapat peningkatan LDR Valas sebesar 119 bps (yoy) menjadi 81,81 persen pada Januari 2026, namun secara umum likuiditas masih berada dalam range yang terjaga dan memadai.
Risiko pasar yang terkait dengan nilai tukar tetap terjaga, ditandai dengan rasio Posisi Devisa Neto (PDN) yang berada pada posisi long dan tergolong rendah sebesar 1,16 persen, jauh berada di bawah threshold (20 persen). (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Ajaib telah melampaui 7 juta pengguna dan mayoritas merupakan investor ritel berusia 25–40… Read More
Poin Penting PT Bank CIMB Niaga Tbk menutup operasional kantor cabang 18–22 Maret 2026 saat… Read More
Poin Penting Bank Syariah Indonesia bersama PT Kereta Api Indonesia menghadirkan instalasi tematik bernuansa Timur… Read More
Poin Penting Indonesia Anti-Scam Centre mencatat 432.637 aduan penipuan online dengan kerugian Rp9,1 triliun, sementara… Read More
Poin Penting Ketua Banggar DPR Said Abdullah menegaskan defisit APBN akan tetap dijaga di bawah… Read More
Poin Penting Outlook bank jumbo termasuk Himbara jadi negatif akibat faktor eksternal dan perubahan outlook… Read More