Ilustrasi Perbankan dan Keuangan Global/Istimewa
Jakarta – Rencana normalisasi kebijakan bidang ekonomi di negara maju, diprediksi akan memicu aliran modal keluar (capital outflow) yang akan menghambat tren perbaikan ekonomi nasional di 2018, meski di tahun depan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih memiliki ruang menuju arah yang lebih positif.
Demikian pernyataan tersebut seperti disampaikan oleh Ekonom Senior, Destry Damayanti, di Jakarta, Selasa, 14 November 2017. Menurutnya, rencana kenaikan suku bunga Federal Reserve AS (The Fed) pada Desember 2017 dan berlanjut hingga 2018 dinilai tidak terlalu mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia.
“Tekanan suku bunga dari luar negeri tidak akan terlalu parah di Indonesia,” ujar Destry.
Dia menilai, tantangan utama yang akan menggangu ekonomi Indonesia di 2018 ada pada upaya negara maju yang melakukan normalisasi kebijakan ekonomi dan langkah menata ulang neraca keuangan. “Negara maju sedang melihat ekonominya mulai membaik, sehingga mereka berbenah di balance sheet,” ucapnya.
Dengan demikian, tambah dia, negara-negara maju akan menarik modal dari emerging market, sehingga terjadi penyusutan likuiditas di pasar global. “Mereka akan menjual papers yang mereka miliki, sehingga shrinking liquidity,” papar Destry.
Lebih lanjut Destry mengatakan, saat ini AS tengah menciptakan aturan yang linier dengan kebutuhan warganya. “Amerika akan menarik dana dari luar agar kembali ke Amerika. Kondisi tersebut yang akan menjadi tntangan berat buat Indonesia, karena banyak dana Amerika di negara kita,” katanya.
Selain itu,perlambatan ekonomi di China yang single digit dalam tiga tahun terakhir juga akan mengganggu perekonomian Indonesia. “Tetapi, memang China akan mendorong investasi keluar, karena mereka tetap mencari peluang. Selama tidak ada muatan politis, hal itu bagus bagi Indonesia,” jelas Destry.
Sementara itu, menurut dia, ekonomi Indonesia yang masih berbasis komoditas, maka Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang tengah digenjot akan lebih banyak bersumber dari komoditas. “Belakangan ini harga komoditas naik, ini positif bagi negara kita,” tambahnya.
Namun, kata dia, pemerintah tengah mengarahkan investasi sebagai komponen utama untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi dari sebelumnya lebih besar disumbang konsumsi rumah tangga. “Ada dorongan dari pemerintah untuk menggeser konsumsi ke investasi. Sehingga, sekarang APBN akan lebih mengarah ke sektor produktif dibanding konsumtif,” ujarnya.
Selain itu, tensi politik di 2018 juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi di tataran masyarakat menengah ke bawah yang mengalami peningkatan konsumsi. Peringkat investment grade yang dimiliki Indonesia juga akan menjadi sentimen positif bagi komponen investasi.
“Tetapi, tindak korupsi masih menjadi penghalang utama kegiatan investasi,” tutup Destry. (*)
Poin Penting BI dan Kemenkeu sepakat lakukan debt switching SBN Rp173,4 triliun pada 2026, sesuai… Read More
Poin Penting Askrindo menandatangani MoU dengan 20 biro travel di Jateng untuk memperluas perlindungan asuransi… Read More
Poin Penting Harga emas Galeri24 dan UBS stabil pada 23 Februari 2026, masing-masing di Rp3.047.000… Read More
Poin Penting Rupiah dibuka menguat 0,12% ke level Rp16.868 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya… Read More
Poin Penting IHSG dibuka menguat 0,77% ke level 8.335,84 pada awal perdagangan Senin (23/2/2026), dengan… Read More
Poin Penting IHSG pada perdagangan 23 Februari 2026 diproyeksi bergerak variatif cenderung menguat dengan support… Read More