Singapura–Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah berupaya untuk mendorong agar cost of fund lebih terjangkau sehingga dapat meningkatkan daya saing Indonesia di kancah regional. Salah satunya dengan dengan cara menekan net interest margin (NIM) perbankan di level 3%-4% melalui kebijakan pengaturan suku bunga kredit.
Disatu sisi, hal ini berpotensi membuat bank lebih selektif dalam mengucurkan kredit.
Diksha Gera, Analis Blommberg Asia Pacific mengungkapkan, NIM di Indonesia memang paling tinggi di Asia Tenggara. “Bukan hanya karena didasarkan pada tingginya tarif, tetapi juga karena tingginya credit premium”ujar dia.
Masih kata Diksha, tingginya suku bunga juga disebabkan oleh besarnya risiko atau potensi default yang disebabkan oleh efek domino ekonomi.
Untuk mendorong agar bank lebih efisien, OJK berencana mengeluarkan kebijakan terkait pemberian insentif kepada bank yang mampu menekan NIM-nya. Aturan ini dikabarkan akan segera dirilis bulan depan. (*)
Poin Penting Istana membantah kabar Presiden Prabowo menggunakan dua pesawat kenegaraan untuk perjalanan luar negeri.… Read More
Poin Penting BTN menargetkan pembiayaan 20.000 rumah rendah emisi pada 2026, setelah menyalurkan 11.000 unit… Read More
Poin Penting Pakar menilai masuknya Danantara Indonesia ke pasar modal sah secara hukum dan tidak… Read More
Poin Penting NPL konstruksi BTN berasal dari kredit legacy sebelum 2020 yang proses pemulihannya membutuhkan… Read More
Poin Penting Komisi VIII DPR RI menekankan sinergi lintas kementerian dan lembaga untuk memperkuat penanggulangan… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya berencana membeli anak usaha BRI untuk dijadikan penyalur langsung KUR UMKM,… Read More