Perbankan

NIM 24 Bank Di Atas 6%, BRI Paling Tebal Di Kelas BUMN

Jakarta – Menurut Biro Riset Infobank, industri perbankan mencatat penurunan rasio biaya dana terhadap dana pihak ketiga (DPK) dari 4,66% pada 2019, menjadi 3,42% pada 2020, dan hanya 1,88% pada 2021. Rata-rata net interest margin (NIM) bank umum yang pada 2020 sebesar 4,32% pun menebal menjadi 4,51% tahun lalu. Namun, hanya 52 bank yang mencatat NIM sebesar rata-rata pasar tersebut.

Sementara, 40 bank tercatat memiliki NIM di atas 5%, yang 24 bank diantaranya mencatat NIM di atas 6%. NIM tertinggi dicatat oleh Bank BTPN Syariah yang sebesar 26,57% dan Bank Amar Indonesia yang mencatat 11,80%. NIM tertebal ketiga diraih Bank Pembangunan Kalteng yang mencatat 7,83%. Sedangkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi bank dengan NIM terbesar di kelompok bank pelat merah yaitu sebesar 6,89%.

Menurut Sunarso, Direktur Utama BRI, peningkatan dana murah dan NIM yang baik merupakan buah dari transformasi BRI di bidang liabilities. “BRI berada dalam kejayaan karena di UMKM dan itu bisa membuat malas untuk berubah. Dulu bunga KUR 22% kemudian menurun menjadi 12%, lalu menurun ke 6%, kalau cost of fund tidak turun mau makan apa kita. Maka kami harus menurunkan cost of fund,” ujarnya Mei lalu.

Ketika pandemi COVID-19 datang dan industri perbankan kesulitan mengucurkan kredit karena lemahnya permintaan, bank-bank memburu fee based income untuk menopang pendapatannya dan mengejar dana murah di tengah longgarnya likuiditas. Maka kompetisi ketat yang terjadi bukan terjadi di pasar kredit namun di pasar dana. Akibat kompetisinya yang ketat, ketika rasio biaya dana terhadap DPK secara industri hanya 1,88%, ada 43 bank yang cost of fund-nya di atas 3%. Begitu juga rasio current account dan saving account (CASA) terhadap DPK yang secara industri mencapai 59%, tapi ada 44 bank yang mencatat rasio CASA di bawah 40%.

Seperti apa peringkat NIM 107 bank umum? Apakah NIM perbankan 2022 akan layu karena berakhirnya musim panen dana murah karena mengetatnya likuiditas sebagai imbas kenaikan suku bunga acuan The Fed yang akan diikuti bank-bank sentral negara lain termasuk Bank Indonesia melalui kebijakan jamu pahitnya? (KM)

Simak selengkapnya di Majalah Infobank Nomor 530 Juni 2022.

Klik untuk berlangganan

Sirkulasi Infobank atau Infobank Store

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

OJK Serahkan 3 Tersangka Dugaan Tindak Pidana di BPR Panca Dana ke Kejaksaan

Poin Penting OJK tuntaskan penyidikan dugaan tindak pidana perbankan di BPR Panca Dana dan melimpahkan… Read More

2 hours ago

BSI Tabungan Umrah Jadi Solusi Alternatif Menunggu Haji

Poin Penting PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) meluncurkan BSI Tabungan Umrah untuk memperkuat ekosistem… Read More

3 hours ago

Bos OJK: Banyak Pejabat Internal Ikut Seleksi Dewan Komisioner

Poin Penting Pjs Ketua DK OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut banyak pejabat internal ikut seleksi… Read More

3 hours ago

ShopeePay Unggul di Peta Persaingan Dompet Digital 2026 Versi Ipsos

Poin Penting ShopeePay menjadi Top of Mind 41 persen versi Ipsos, paling banyak digunakan (91… Read More

4 hours ago

Purbaya Perpanjang Penempatan Dana di Bank Rp200 Triliun hingga September 2026

Poin Penting Purbaya Yudhi Sadewa memperpanjang penempatan dana pemerintah Rp200 triliun di bank BUMN hingga… Read More

4 hours ago

Allianz Life dan HSBC Indonesia Hadirkan Fund Global Berdenominasi Dolar AS

Poin Penting Allianz Life Indonesia, HSBC Indonesia, dan AllianzGI Indonesia meluncurkan Smartwealth Dollar Equity Global… Read More

5 hours ago